.::. Assalamu'alaikum yaa akhii, yaa ukhtii... Syukron atas kunjungannya...::. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran 102)" .::. "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." QS Shaaff 10-11) .::. "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (Qs Al Baqarah 212) .::.

Minggu, 24 April 2011

Saat Berkata Bohong Sudah Menjadi Kebiasaan

Saudaraku, betapa mencari orang yang berkata jujur itu amat langka kita temui sekarang ini. Dari orang yang di luar kita lihat sebagai sosok pendiam, super melankolis, lugu atau terlihat baik-baik saja belum tentu akan menjamin bahwa dirinya adalah orang yang jujur.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian "menegangkan" di Stasiun SJ saat saya dan sahabat saya bertemu dengan orang yang sudah kami kenal selama beberapa hari sebelumnya. Kami sebetulnya janjian di tempat ini hanya bermaksud untuk bertabayun saja, apakah benar ia telah memberikan keterangan bohong seperti yang kami dengar dari salah seorang sahabat kami.

Dan karena pertolongan Allah, kami akhirnya tahu, bahwa ia tak hanya membohongi kami lewat ceritanya, tetapi juga saat janjian dengan kami di stasiun itu pun, ia masih saja membohongi kami dengan skenario kebohongannya yang (sepertinya) sudah dipersiapkan secara matang. Wallahu'alam.

Saya sendiri terheran-heran dengan kelihaiannya mengemas cerita yang menurut saya lebih mirip kayak sinetron ini (Ups! Alergi sinetron? Oke, katakan saja lebih mirip kayak telenovela. Masih alergi juga? Baiklah, kayak film India :p).

Saya juga terheran-heran dengan kepiawaiannya berakting, melenggang ke bagian informasi, lalu melangkah masuk ke gerbong memeriksa tempat yang nanti akan didudukinya. Saat saya bertanya, ia mampu menjawab pertanyaan saya. Saat saya menanyakan keganjilan dari penuturannya, ia dengan gesit memberikan alasannya. Betapa lihainya ia berbohong. Dari kelihaiannya berbohong, nampak jelas ia sudah amat terbiasa melakukan ini. Wallahu'alam.

Yah, saudaraku, amat miris jika berkata bohong sudah menjadi kebiasaan seperti ini, bahkan jika itu digunakan untuk kejahatan. Padahal Rasulullah Saw bersabda, "Saya menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bergurau”.[HR. Baihaqi]

Berbohong meski hanya bergurau saja dilarang apalagi itu digunakan untuk menipu orang lain dengan tujuan-tujuan tertentu. Dan sadar atau tidak, kitapun seringkali terjebak dalam obrolan-obrolan yang sifatnya hanya guyonan tetapi lebih menjurus ke ngibul. Orang yang kita ajak berbicarapun sebetulnya sudah tahu apa yang kita katakan hanya kibulan, tetapi mereka enjoy-enjoy saja karena dinilai lucu--semoga kita tidak termasuk yang demikian. :)

Dan diakui atau tidak, para orang tua pun seringkali berkata tidak jujur pada putra-putrinya yang masih kecil. Saya jadi ingat, saat mendengar seorang bapak bercerita bahwa putrinya terus-terusan merengek dibelikan sepatu yang pernah dijanjikan oleh si bapak. Padahal, ia tak benar-benar akan membelikan sepatu untuk putrinya. Ia berkata seperti itu hanya untuk menenangkan si anak yang kecewa saat ia tak dibelikan sepatu pada saat itu. Contoh ini hanya sebagian, belum pada bagian-bagian lain yang tanpa kita sadari telah berkata bohong.

Padahal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi, diceritakan bahwa saat Abdullah bin 'Amir RA dipanggil oleh ibunya, ibunya berkata, “Kesinilah ! kamu saya beri”. Maka Rasulullah SAW yang saat itu sedang duduk di rumahnya bersabda, “Apakah betul engkau akan memberinya?”. Ibunya berkata, “Saya akan memberinya korma”. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada ibunya, “Ketahuilah, sesungguhnya jika kamu tidak memberi sesuatu kepadanya niscaya kamu dicatat dusta”.

Maka biasakanlah diri kita untuk senantiasa berkata dan berlaku jujur mulai dari hal sekecil apapun. Ingat Sabda Nabi Saw berikut. "Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta".[HR. Muslim]

Sabtu, 16 April 2011

Tak Ada yang Dapat Menolak Azab-Nya


Setidaknya ini menjadi peringatan bagi kita bersama. Gempa sekaligus tsunami hebat yang menerjang wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret 2011 lalu merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Sehebat apapun teknologi yang diciptakan manusia tak akan bisa menolak dari datangnya bencana. Jepang yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas teknologi pun tak bisa terhindar dari luapan air laut yang tumpah melumat siapa dan apa yang dilaluinya. Badan Kepolisian Nasional Jepang pun merilis jumlah korban tewas dan juga hilang ada lebih dari 20 ribu orang.

Sebetulnya Jepang punya sejarah panjang dalam hal gempa karena letaknya yang berada di sepanjang “cincin api” pasifik. Karena inilah, Jepang memiliki aturan membangun gedung yang sangat baik, sementara gedung-gedung besar telah didesain untuk tidak ambruk (oleh gempa). Begitu juga, rakyat Jepang sangat terlatih baik menghadapi gempa maupun tsunami. Namun segala perlindungan ini bukan lantas Jepang terbebas dari ancaman bencana yang bisa menghilangkan nyawa manusia. Seperti dilansir tribunnews.com Badan Kepolisian Nasional Jepang pada 21 Maret lalu merilis jumlah korban tewas dan juga hilang ada 21.459 orang.

Reaktor-reaktor nuklir yang di-setting memiliki sistem peringatan gempanya sendiri sehingga akan berhenti otomatis dan bangunannya yang didesain tahan gempa bukan lantas dijamin aman dari guncangan hebat. Beberapa reaktor-reaktor nuklir di Jepang ini meledak, dan rakyat Jepang --belum reda ketakutan mereka dengan guncangan gempa dan tsunami—masih pula dipanikkan oleh radiasi nuklir. Bukan hanya rakyat Jepang, penduduk lain yang berada di negara-negara lain pun juga dibuat panik oleh pancaran radiasi nuklir ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,”
[QS. Ali Imran [3] : 10]

Tidak ada sesuatupun yang bisa menolak dari datangnya siksa Allah. Sehebat apapun manusia, tetap tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Negara sekelas Jepang pun menjadi tak berdaya saat gempa dengan kekuatan 8,9 SR mengguncang sebagian wilayahnya di timur laut Jepang. Tak lama kemudian, gempa dengan kekuatan besar ini menyebabkan tsunami hebat menerjang setiap benda berikut nyawa yang dilewatinya.

Meski Jepang riskan terjadi gempa karena terletak di perbatasan dua lempeng tektonik, namun pada faktanya hingga kini pun, teknologi semaju apapun yang diciptakan oleh manusia tetap tak bisa memprediksi datangnya gempa. Selama ini para ahli hanya bisa memprediksi wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi gempa, tetapi lagi-lagi tak mampu untuk memberi informasi kapan gempa akan terjadi.

Para ahli tersebut juga mengatakan untuk tempat-tempat dengan tingkat aktivitas historis tinggi, peluang bahwa sebuah gempa akan mengguncang di periode beberapa dekade mendatang bisa amat besar. Tetapi meski Jepang punya sejarah panjang dalam hal gempa, gempa yang terjadi bulan Maret lalu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah di Jepang. Gempa terdahsyat sebelum ini terjadi pada tahun 1923 yang mengguncang wilayah selatan Tokyo dan menewaskan 140.000 nyawa.

Sementara di Indonesia sendiri, secara beruntun gempa-gempa dengan kekuatan besar terus saja mengguncang. Mulai dari gempa yang juga berpotensi tsunami di Aceh dan Sumatra, gempa di Jogja dan kota-kota lainnya yang meluluh lantakkan rumah-rumah bahkan ribuan nyawa melayang karena guncangan hebat ini.

Memang para ahli banyak mengatakan bahwa Indonesia riskan terjadi gempa karena letaknya yang berada di sepanjang “cincin api” pasifik, tetapi tak ada yang tahu jika Indonesia bakal dilanda gempa secara terus-menerus dengan waktu yang tak terpaut lama, bahkan di daerah yang sebelumnya tak punya sejarah dalam hal gempa. Siapa yang bisa mengira gempa --dan beberapa diantaranya menimbulkan tsunami-- terjadi dengan jarak waktu yang amat singkat seperti ini?

Tahun 2004, beberapa wilayah di Aceh dan juga Sumatra diguncang gempa dengan kekuatan 9,1 SR dan menimbulkan tsunami besar yang menewaskan 166 ribu di Aceh dan 320 ribu orang dari delapan negara yang dilewati gelombang itu hingga ke Thailand, pantai timur India, Sri Lanka, bahkan pantai timur Afrika di Somalia, Kenya, dan Tanzania. Tahun 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR di lepas pantai Nias dan menewaskan 1.300 orang. Tahun 2006, gempa dengan kekuatan 7,7 SR mengguncang dasar Samudra Hindia, 200 km selatan Pangandaran, memicu gelombang tinggi hingga 6 meter di Pantai Cimerak dan sekitar 800 orang dilaporkan hilang (sumber : tempointeraktif.com). Itu pun belum dihitung gempa yang terjadi di Jogja, Tasikmalaya, Jambi dan sebagainya.

Siapa yang dapat mengira sebelumnya? Pada faktanya, setelah Indonesia diguncang gempa dan tsunami hebat yang terjadi di Aceh dan Sumatra tahun 2004 silam baru para ahli berbondong-bondong mempelajari lika-liku wilayah Indonesia yang rawan terjadi gempa dan juga berpotensi menimbulkan tsunami. Meski menjadi “langganan” gempa, toh tetap saja para ahli tak mampu memberikan prediksi terpercaya kapan dan dimana gempa akan mengancam. Mereka berargumen bahwa prediksi yang terpercaya membutuhkan prasyarat, yakni berupa semacam sinyal di bumi yang mengindikasikan gempa bumi bakal terjadi. Sinyal itu harus terjadi hanya sebelum terjadinya gempa bumi besar dan harus terjadi sebelum semua gempa besar terjadi. Sayangnya, sampai saat ini, para seismolog gagal menemukan prasyarat-prasyarat itu.

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” [QS. Qaaf [50] : 36]

Sehebat apapun manusia menciptakan sesuatu jika Allah sudah berkehendak terjadi maka terjadilah. Tidak ada suatu makhluk pun yang dapat menolak kehendak-Nya. Tetapi ironisnya, kebanyakan manusia saat ia bisa menciptakan sesuatu yang mutakhir justru menjadikan dirinya merasa paling hebat hingga timbul kecongkakan dalam hatinya, bahkan sampai mengkufuri keberadaan Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang demikian.

Maka, bencana yang terus saja melanda baik di negeri kita sendiri dan juga negara-negara lain ini kita jadikan sebagai pelajaran bagi kita bersama. Agar ke depan semakin baik lagi, dan makin mantap berjuang di jalan yang diridhai-Nya. [ntz]