.::. Assalamu'alaikum yaa akhii, yaa ukhtii... Syukron atas kunjungannya...::. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran 102)" .::. "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." QS Shaaff 10-11) .::. "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (Qs Al Baqarah 212) .::.

Senin, 16 Januari 2012

Ragu Menikah karena Finansialnya Belum Siap?

Masih ragu untuk menikah? Alasannya karena belum siap dalam hal finansial? Inilah yang seringkali mendera para lajang mengapa masih menunda-nunda untuk menjalankan sunnah Rasul ini. Bagi ikhwan, kesiapan finansial selalu menjadi hal yang sangat perlu dipertimbangkan sebelum benar-benar mantap mengakhiri masa lajang. Pasalnya, ia-lah yang nanti bertanggungjawab memberikan nafkah bagi istri dan anak-anaknya kelak.

Kesiapan finansial rupanya juga mempengaruhi kondisi psikis si ikhwan ketika hendak meminang sang bidadari. Kekhawatiran pun muncul jika nanti orangtua si gadis sampai bertanya, “Kerjanya dimana? Gajinya sebulan berapa?” Sementara kerja masih serabutan. Penghasilan selama sebulan juga tak seberapa. Bagaimana jika ditolak? Terlebih, saat tahu bahwa keluarga sang bidadari ternyata merupakan keluarga berada.

Karena merasa belum siap dalam hal finansial, banyak para ikhwan mengundur-undur waktu untuk melamar sang bidadari yang memikat hatinya tersebut. Alhasil, banyak pula mereka yang akhirnya patah hati karena sang bidadari sudah keburu dilamar oleh ikhwan lain. Ada juga yang sampai menyesal kenapa tak kunjung melamar sang bidadari, karena ternyata si ikhwan yang dipilih sang bidadari tersebut nasibnya tak jauh beda dengannya: masih kerja serabutan dengan penghasilan yang tak seberapa pula.

Alasan kesiapan finansial memang selalu dijadikan indikator utama ketika seseorang hendak memutuskan untuk menikah. Yang jadi pertanyaan kemudian, seberapa besar ukuran “siap” dalam sisi keuangan bagi seseorang untuk segera menikah? Apakah harus sudah bekerja dengan gaji tetap sekian juta per bulannya, punya tabungan yang cukup untuk modal nikah (seperti memberi mahar, biaya resepsi pernikahan dan lain-lain), rumah lengkap dengan perabotnya, kendaraan dan sebagainya?

Menikah, Harus Sudah Bekerja?

Sebetulnya, sudah bekerja atau belum bekerja, jika memang sudah siap silahkan saja menikah. Dalam agama, tidak ada aturan yang mengatur bahwa: kalau menikah berarti harus sudah bekerja. Kata kuncinya bukan sudah bekerja atau belum, melainkan adalah sudah siap menanggung beban nafkah keluarga setelah menikah nanti. Ini karena memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya menjadi kewajiban suami dalam rumah tangga.

Lalu bagaimana caranya bisa menanggung nafkah kalau belum bekerja? Perlu dicatat sobat muda, yang diperlukan menanggung nafkah bukanlah pekerjaan, melainkan penghasilan. Untuk membedakan antara bekerja dengan berpenghasilan ini, kita lihat pada contoh berikut.
“Dengan bekal pendidikan yang tinggi, Budi memiliki pekerjaan yang cukup baik. Sayangnya, nasib keuangannya buruk. Hutangnya juga menumpuk disana-sini. Bukan karena gajinya yang tidak cukup karena harus menanggung beban nafkah orang lain, tetapi lebih karena gaya hidupnya yang boros. Akibatnya, gaji yang diterima setiap akhir bulan sudah habis sebelum tanggal gajian berikutnya tiba.

Sementara Doni baru saja menyelesaikan kuliah S1-nya dan berniat untuk langsung meneruskan ke jenjang S2. Beasiswa yang diterimanya dari “Yayasan Ayah Bunda” alias orangtuanya sendiri meliputi biaya kuliah dan biaya hidup sampai selesai S2. Demikian halnya dengan Catur, seorang mahasiswa tingkat akhir yang belum lama ini kehilangan kedua orangtuanya dalam sebuah kecelakaan. Tapi ternyata ia tidak hidup dalam kesusahan. Memang tidak terlalu besar, namun sebagai anak tunggal, kedua orangtuanya meninggalkan warisan dan manfaat asuransi yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan kuliahnya dan biaya hidup beberapa tahun setelah itu.”

Nah, sudah jelas bukan? Bekerja tidak berarti segala kebutuhan hidup kita terjamin. Sebaliknya, jika kita tidak bekerja, bukan berarti pula tidak punya penghasilan. Kesimpulannya, indikasi utama adalah adanya kemampuan seorang ikhwan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jalannya bisa melalui penghasilan dari bekerja, usaha yang diturunkan kepadanya, atau peninggalan orangtua. Ini sah saja selama tidak merugikan pihak lain.

Mapan Dulu Baru Menikah atau Menikah agar Mapan?

Ya, kemapanan seringkali merupakan salah satu pertimbangan para lajang untuk menikah. Tidak sedikit dari mereka yang memilih menunda untuk menikah jika belum mapan dari sisi keuangan. Ada saja ikhwan yang tidak mau melamar akhwat sebelum ia punya rumah sendiri atau memiliki karier yang mapan di perusahaan. Begitu juga akhwat, beberapa dari mereka lebih berharap yang datang melamar adalah ikhwan yang sudah “jadi”, apalagi jika ia sendiri sudah cukup matang dari segi finansial.

Jika sobat muda juga berpikir seperti ini, ketahuilah bahwa menunggu kemapanan ekonomi untuk menikah (atau dinikahi) ibarat seperti naik helikopter dan ingin langsung melihat pemandangan tanpa melalui susah payahnya mendaki gunung. Tentu rasanya berbeda menikmati pemandangan dengan mendaki gunung terlebih dahulu. Ketika kita harus jalan kaki naik gunung dengan susah payah, maka perasaan saat melihat pemandangan tersebut akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan melihatnya langsung dari helikopter. Yang membuatnya berbeda bukan kualitas gambar pemandangan yang dihasilkan mata, melainkan pada proses pencapaiannya.

Ada proses yang mesti dijalani terlebih dahulu, yang tentu menambah keindahan yang kita peroleh setelah berusaha. Begitu juga akan berbeda rasanya ketika kita langsung melihat pemandangannya tanpa bersusah payah dahulu untuk mendaki gunung. Pemandangan yang dilihat memang sama, tetapi perasaannya akan berbeda karena prosesnya yang berbeda.

Begitu pula dengan proses pernikahan. Perasaannya akan jauh berbeda jika kita dan pasangan kita berjuang bersama dari titik nol menuju titik kesuksesan daripada kita mengajak pasangan kita untuk langsung berada di titik kemapanan. Sebagian para ikhwan berpendapat, mereka tidak ingin mengajak pasangannya sengsara. Biarlah mereka saja yang melalui sulitnya menuju kemapanan, dan nantinya mereka akan mengajak calon pasangan hidup mereka untuk berumah tangga setelah mereka sudah mapan agar pasangannya kelak tidak perlu merasakan kesulitan dan susah payahnya mencapai kesuksesan itu.

Diakui atau tidak, ini sekadar pembenaran saja dari ketakutan para lajang dalam menghadapi cobaan (berdua). Mereka mungkin hanya tidak ingin terlihat ketika sedang gagal, mereka hanya ingin terlihat sudah berhasil.

Antara Ragu, Nekat, Berani dan Tawakal

Untuk yang masih ragu menikah hanya karena alasan finansial semata, ketahuilah bahwa Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur [24] : 32] Jangan karena merasa miskin, maka kita takut untuk menikah. Ingat, janji Allah itu pasti, bahwa Allah akan memampukan dengan karunia-Nya.

Lalu bagaimana dengan nekat, berani dan tawakal sendiri? Terkadang, antara berani dan nekat perbedaannya memang sangat tipis sekali. Dikatakan berani jika melakukan sesuatu yang luar biasa dengan persiapan dan perencanaan yang matang. Sedangkan nekat adalah melakukan sesuatu tanpa persiapan sama sekali. Jika seseorang akan melompat dari jembatan dengan tali bunjee dan sudah diukur secara cermat serta diawasi para ahli, maka itu dikatakan berani. Tapi kalau ada yang hendak lompat dari jempatan dengan mengikat pada tali seadanya, tanpa pengetahuan teknis yang memadai, itulah yang dikatakan nekat.

Dari dua pengertian tadi, tampaklah bahwa berani itu mengandung makna positif, sedangkan nekat bermakna negatif. Namun, berani saja belum tentu benar. Karena yang dimaksud berani ini belum tentu bertawakal. Orang yang berani—dengan segala persiapan dan kesiapan professional—belum tentu bisa dikatakan sebagai orang yang bertawakal dan pasrah atas ketentuan Allah. Bisa jadi ia banyak latihan, bisa jadi pula ia punya perangkat pengamanan yang memadai. Tapi saat mentalnya mengatakan, kalau memang sudah waktunya mati ya mati saja, orang ini hanya berani hidup, tetapi tidak berani mati.

Ia bukannya bersiap menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi justru tidak peduli dengan masa depannya. Orang yang berani hidup dan mati adalah orang yang tawakal kepada Allah. Ia siap dengan segala keputusan Allah atas ikhtiar yang dilakukannya. Terhadap rezeki Allah, ia senantiasa harus bertawakal, yakni berusaha untuk menjemput rezeki yang memang sudah disiapkan Allah untuk hamba-Nya. Bukan dengan duduk diam, lalu menunggu rezeki datang dari langit.

Kembali ke masalah pernikahan. Jika seorang laki-laki melamar seorang gadis dengan hanya bermodalkan niat baik untuk segera menikah, tanpa persiapan apapun, itu namanya nekat. Namun, jika menunggu harta terkumpul banyak, baru kemudian berani melamar gadis, itulah yang disebut berani, tetapi kurang tawakal. Sedangkan jika kita banyak berdoa agar Allah mendekatkan jodoh, lalu kemudian melamar seorang gadis tanpa persiapan itu namanya nekat tapi mengaku tawakal.

Pemuda yang berani dan bertawakal adalah pemuda yang berdoa agar mendapatkan yang terbaik. Tidak hanya itu, ia pun telah siap meski harus menghadapi kenyataan yang pahit. Tidak hanya berdoa atau menunggu keuangan melimpah, tetapi ia sempurnakan ikhtiarnya mencari ma’isyah agar layak mempersunting “Aisyah”. [ntz]


*Beberapa bagian dari artikel diatas dikutip dari buku “Aisyah dan Ma’isyah” karya Ahmad Gozali.

Sabtu, 26 November 2011

Indahnya Menikah Tanpa Pacaran

Mungkin, sebagian besar dari kita akan berpikir, bagaimana mungkin kita akan menikah dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya? Kita tidak tahu bagaimana sesungguhnya ia, selain hanya profil singkat yang tertulis di selembar kertas berikut foto close-up yang diberikan kepada pimpinan untuk dita’arufkan. Lalu dari profil berikut foto tersebut kita dipertemukan secara langsung dengannya bersama pimpinan. Tak banyak obrolan yang bisa diobrolkan dalam ta’aruf tersebut. Obrolan hanya berlangsung beberapa menit saja, dan setelah itu sang pimpinan meminta kepada yang dita’arufkan untuk memberikan jawabannya dalam tempo waktu yang amat singkat, satu atau dua minggu saja.

Tentu, dalam mencari pasangan hidup tidak semua orang akan mau diatur dengan aturan seperti ini. Cara seperti ini dinilai kurang bisa mendekatkan antar calon pasangan yang seharusnya saling mengenal satu sama lain sebelum menapak ke gerbang pernikahan. Mereka berpendapat, dengan saling mengenal satu sama lain inilah diharapkan segala problema yang terjadi saat menikah nanti dapat dilampaui dengan baik karena keduanya sudah tahu sifat dan karakternya masing-masing.

Karena alasan inilah, banyak dari kita memilih untuk melirik budaya pacaran yang biasa dilakukan oleh masyarakat bebas. Memang, tidak semua mutlak meniru gaya pacaran mereka: kencan di malam minggu, bergandengan tangan, berpelukan dan sebagainya. Gaya pacaran hanya sebatas via sms, FB atau mungkin hanya telpon-telponan saja tanpa pernah ketemuan kecuali bertemu secara tidak sengaja (atau mungkin malah disengaja) dalam acara-acara semisal pengajian, seminar dan sebagainya. Alasan mereka hanyalah untuk lebih mengenal saja, agar nantinya ketika sudah mantap berumah tangga si calon pasangan sudah tahu siapa dan bagaimana calon pasangannya.

Lalu apakah melalui proses mengenal satu sama lain sebelum menjejaki bahtera rumah tangga ini bisa menjadi jaminan bahwa kelak rumah tangganya akan lebih harmonis? Jawabannya, jelas belum tentu. Jika alasan mereka karena takut terjadi perceraian lantaran belum mengenal sebelumnya, toh di luar sana banyak kasus yang bertahun-tahun pacaran tetapi baru beberapa bulan menikah justru sudah cerai. Pada faktanya, banyak hal dari mereka yang justru baru terbuka ketika sudah menikah. Sebelum menikah, yang ditunjukkan hanyalah yang baik-baik saja sementara yang buruk-buruk justru disembunyikan. Karena ketidakterusterangan inilah yang kemudian memunculkan prahara saat sudah mengikat janji setia dalam mahligai pernikahan.

Sebetulnya, apa yang selama ini mereka khawatirkan—takut jika nanti terjadi perceraian jika menikah dengan orang yang tidak dikenali sebelumnya—tidak sepenuhnya terbukti. Toh, banyak pasangan yang tidak kenal sebelumnya justru sampai sekarang adem ayem. Padahal mereka ini hanya tukar foto dan profil, lalu dipertemukan sekali untuk dita’arufkan dengan didampingi pimpinan/murabbi/guru ngaji. Setelah memberikan jawabannya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, mereka juga tidak saling bertukar sapa hingga ijab qobul tiba.

Lalu, apa yang menjadikan pernikahan mereka bertahan hingga kini? Padahal, mereka tidak pacaran sebelumnya, atau paling tidak ta’aruf dulu lewat sms, FB, dan sebagainya sebelum nanti memutuskan untuk menikah?

Menikah karena Allah

Yah, karena mereka menikah karena Allah. Karena Allah-lah, mereka menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan apapun keputusan-Nya pastilah yang terbaik untuknya. Dengan kemantapan hati lewat istikharoh dan kemudian tawakal’alallah mereka yakin sepenuhnya atas pilihan Allah tersebut. Dengan keyakinannya akan firman-Nya yang artinya,“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...”[QS. An-Nuur [24] : 26]

Mereka yakin jika seseorang yang akan bersamanya kelak adalah orang yang mempunyai tujuan sama yakni sama-sama berjalan di jalan yang diridhai Allah. Jika tidak, Allah pasti akan menjauhkan mereka dan mengganti dengan yang lebih baik. Dari ayat diatas sudah jelas bahwa Allah tidak mungkin menjodohkan mereka dengan orang yang senang berbuat maksiat sedang mereka sendiri sangat menjauhi segala perbuatan maksiat.

Lagipula, yang mempertemukan mereka adalah pimpinan di tempat ngajinya. Seorang pemimpin pastilah akan bertanggung jawab penuh dalam menjodohkan murid/anggotanya dengan anggotanya yang lain.

Biarpun tidak saling bertukar sapa (kecuali saat dipertemukan bersama pimpinan), toh mereka bisa bertanya tentang bagaimana ia lewat pimpinan yang mempertemukan tersebut atau sumber yang bisa dipercaya lainnya. Di samping itu, saat dipertemukan bersama pimpinan, mereka juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai pertimbangan saat memberikan jawaban apakah akan berlanjut (ke jenjang pernikahan) atau tidak.

Lalu, bagaimana jika mereka belum menaruh hati dengan si calon pasangannya? Bagaimana pula jika sudah menikah nanti, mereka tak jua bisa mencintai pasangannya? Tak perlu risau, karena Allah berjanji akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang dalam pernikahan selama pernikahan tersebut didasari atas kecintaan kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [QS. Ar Ruum [30] : 21]

Inilah yang membuat pernikahan mereka justru bertahan hingga sekarang. Setidaknya anggapan bahwa untuk menikah si calon pasangan seharusnya melakukan pendekatan untuk saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu (baca: pacaran) mutlak tidak terbukti. Bagaimanapun, pacaran dari sisi apapun tak ada manfaatnya, kecuali bagi orang-orang yang ogah dituntun dalam syariat Islam. Lalu bagaimana dengan “ta’aruf” sendiri?

“Ta’aruf”!?

Penulis memang sengaja memberi tanda kutip pada kata “ta’aruf” diatas. Ta’aruf pada arti umum adalah perkenalan. Ta’aruf sendiri lebih dikenal sebagai proses saling mengenal antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Proses ini tidak sama dengan pacaran. Prosesnya selalu dimediasi oleh perwakilan dari kedua belah pihak (pimpinan, guru ngaji, atau juga orangtua).

Namun sayangnya, kata “ta’aruf” disini seringkali disalahgunakan. Banyak ikhwan abal-abal yang mendekati para akhwat dengan kedok “ta’aruf”. Si ikhwan gadungan ini mencoba ber-“ta’aruf”-an dengan si akhwat tanpa melibatkan satupun perantara diantara mereka. Mulanya PDKT terlebih dahulu lewat sms dengan bertanya sesuatu yang penting-penting dulu (walaupun sebetulnya hanya dipenting-pentingkan), semisal tanya tugas kampus, seputar amanah di organisasi kampus dan sebagainya. Lalu, mengambil hati si akhwat dengan rutin mengirimkan sms tausiah, rajin membangunkan shalat malam (walaupun setelah sms kembali tidur lagi), mengingatkan untuk segera shalat (sedang dia sendiri malah asyik main game) dan hal-hal baik lainnya agar si akhwat pujaan bisa jatuh hati dengannya.

Tanpa disadari, obrolan mereka (masih lewat sms) mengarah ke hal pribadi. Sikap terbukanya si akhwat ini membuat si ikhwan semakin berani untuk sekadar bertanya, “Sudah makan belum?” lalu ditambah dengan kalimat yang bernada mengingatkan dan sarat dengan perhatian, “Cepat makan sana! Nanti sakit loh!”

Saking asyiknya smsan, obrolan dua insan berbeda gender ini kemudian melebar hingga telpon-telponan. Mengingat mereka ini tidak rumongso (merasa) pacaran melainkan hanya ber-“ta’aruf”-an, maka yang diobrolkanpun juga ada bau-bau agama semacam isian tausiah dari kajian yang baru saja diikuti dan sebagainya.

Coba kita telaah apa yang penulis tulis diatas. Memang, dari kata yang digunakan jelas sangat berbeda dengan pacaran. Apalagi bagi sebagian orang memandang, kata “ta’aruf” ini lebih terlihat “Islami”. Tetapi, betulkah “ta’aruf” seperti yang tersebut diatas adalah sesuai dengan tuntunan Islam?

Jika ada seorang ikhwan mendekati akhwat tanpa ada perantara diantara mereka, maka yang jadi pertanyaan sekarang, siapa yang ketiga di antara mereka? Asyik smsan, telpon-telponan tanpa ada yang ketiga diantara mereka (selain syaitan), bukankah ini namanya taqrobuzzina?

Entah itu “ta’aruf” (masih dalam tanda kutip), pacaran atau apapun namanya jika mengarahnya ke taqrobuzzina, bukankah kita sebagai orang beriman dilarang oleh Allah mendekati zina? Ta’aruf yang aman adalah melibatkan perantara entah pimpinan, murabbi atau guru ngaji. Tidak perlu risau, meskipun tak mengenal sebelumnya. Toh, proses perkenalan yang nanti mengarah ke gerbang pernikahan ini selalu dilakukan bersama perantara yang InsyaAllah akan terjauhkan dari kemaksiatan.

Tak perlu juga malu, jika banyak yang mengatakan cara seperti itu adalah cara yang sudah kuno. Dan jangan mudah goyah, jika mereka juga mengatakan bahwa yang modern adalah dengan pacaran dulu. Biarlah mereka mengatakan kuno atau tidak modern atau mungkin ada juga yang mengatakan tidak “laku” (karena tidak punya pacar), toh Allah tidak melihat hamba-Nya dari kacamata kuno, tidak modern atau tidak laku, karena Dia hanya melihat hamba-Nya lewat ketakwaannya.

Sayangnya, banyak penulis jumpai, mereka yang awalnya melibatkan perantara, setelah dita’arufkan dengan seseorang—yang kemudian menjadi calon pasangannya—justru saling berhubungan satu sama lain tanpa ada lagi perantara diantara mereka. Mungkin, sebagian orang berpendapat, “Dia kan calonnya. Toh, nanti dia akan jadi suami/istrinya.” Tetapi, bukankah itu baru calon? Suatu waktu bisa saja berubah jika Allah menghendaki yang lain bukan? Jika ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan, alangkah lebih amannya untuk selalu melibatkan perantara agar terjauhkan dari segala bentuk kemaksiatan. Semoga bermanfaat. [ntz]

Kamis, 18 Agustus 2011

“Islami”-nya Wajah Pertelevisian Indonesia saat Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang penuh rahmat, bulan yang diberkahi. Terlebih di negeri kita ini, bulan Ramadhan selalu menyimpan cerita lain dari bulan yang lain. Betapa tidak, di bulan ini tempat-tempat yang riskan maksiat, seperti lokalisasi, diskotik, cafe dan tempat hiburan lainnya ditutup. Aparat pemerintah pun intensif melakukan operasi segala penyakit masyarakat (pekat) seperti peredaran minuman keras (miras), perjudian dan premanisme saat bulan Ramadhan tiba. Tak hanya itu, para insan pertelevisian pun juga menyuguhi kita dengan tontonan-tontonan Islami. Nyaris, pada bulan ini, Indonesia seolah “disulap” menjadi negeri yang Islami.

Momen Ramadhan selalu menyuguhkan cerita tersendiri dari bulan yang lain, terutama perubahan dari acara-acara televisi yang terlihat lebih “Islami” dari biasanya. Sinetron-sinetron religi bermunculan. Program-program saat sahur maupun menjelang waktu buka yang dikemas dengan gaya humor mewarnai hampir seluruh stasiun televisi. Tausiah dari ustadz maupun ustadzah ternama juga tak absen dihadirkan. Lagu-lagu religi juga sering dilantunkan. Bahkan penyanyi atau grup band yang biasa menyanyikan lagu tentang cinta, beralih sementara waktu dengan meluncurkan single religi.

Tayangan infotainment pun seakan juga ikut “puasa” gosip, karena saat bulan Ramadhan mereka akan menyajikan kabar-kabar dari kehidupan rohani para selebriti. Presenternya yang biasa berpakaian buka-bukaan, saat bulan Ramadhan mereka mengenakan pakaian yang agak tertutup. Demikian halnya dengan para selebriti yang biasa berpakaian seksi akan mengubah gaya berbusananya dengan busana yang (menurut mereka) lebih sopan.

Memang, momen Ramadhan yang merupakan bulan mulia ini selalu “dimuliakan” oleh masyarakat termasuk para insan pertelevisian. Acara-acara televisi banyak diisi dengan program-program Islami. Sayang, dari sekian program yang ditayangkan di bulan Ramadhan tersebut, banyak diantaranya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Guyonan dari para komedian yang membawakan acara saat sahur maupun menjelang waktu buka puasa seringkali kebablasan. Guyonan mereka cenderung berlebihan, banyak tawa, dan kebohongannya. Tujuan mereka hanya menghibur, tak peduli apakah yang dibicarakannya benar atau tidak. Parahnya, mereka menjadikan aturan Islam sebagai bahan guyonan.

Semisal saat mereka bersentuhan dengan lawan jenis, mereka langsung meledek dengan nada bercanda, “Eh, kita ini bukan muhrim!” Padahal mereka sendiri masih tetap saja bersentuhan, main towel sana-sini dengan bebasnya sekalipun mereka tahu bahwa yang ditowel bukan muhrimnya. Jelas guyonan seperti ini telah menganggap aturan Allah hanyalah main-main saja. Sedang aturan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an tidak ada keraguan di dalamnya.

Sinetron-sinetron religi juga banyak yang menyimpang dari syariat Islam. Meski pemain utamanya mengenakan jilbab, tetapi mereka ini—dalam cerita sinetron tersebut—masih bersalaman dengan yang bukan mahram, saling memandang malu-malu dengan yang disukai. Padahal seorang wanita muslimah yang sudah bisa menjaga auratnya tidak mungkin ia dengan bebasnya membiarkan tangannya disentuh oleh orang yang belum halal dengannya. Tetapi mirisnya, banyak para penontonnya yang asal menyebut itu sinetron Islami hanya karena pemainnya mengenakan jilbab.

Begitu halnya saat menjelang waktu buka, para penikmat televisi juga disuguhi dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyanyi atau grup band kaliber. Lucunya, di samping menyanyikan lagu religi, para penyanyi atau grup band ngetop ini juga menyanyikan lagu-lagu mereka yang bernuansa tentang cinta (hubungan laki-laki dengan perempuan yang belum terikat pernikahan) dalam acara tersebut. Hanya saja, mereka ini terkesan Islami karena pakaian yang dikenakan lebih terlihat “Islami” (mengenakan baju koko, pecis dan sebagainya-red).

Sepintas memang terlihat seperti Islami bukan? Tetapi jika kita bijak menilainya, acara-acara yang terlihat Islami itu ternyata menyimpan segudang mudharat di baliknya. Ironisnya, justru tayangan seperti ini yang banyak ditonton oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Pasalnya, acara-acara seperti ini masih ada hingga kini, hanya kemasannya yang agak dibedakan dari Ramadhan sebelumnya agar penikmatnya tidak bosan.

Setelah Ramadhan Berlalu

Lalu bagaimana jika bulan Ramadhan telah berakhir? Bisa kita tebak. Seperti halnya cerita dalam sinetron-sinetron Ramadhan yang akan berakhir seiring berakhirnya bulan Ramadhan, wajah pertelevisian kita pun akan berubah kembali seperti sebelum bulan Ramadhan. Selebriti yang berpenampilan lebih tertutup saat bulan Ramadhan akan kembali seperti semula, tampil buka-bukaan memperlihatkan auratnya secara vulgar. Ustadz maupun ustadzah yang pada saat bulan Ramadhan sering diundang memberikan tausiah di beberapa stasiun televisi, ketika bulan Ramadhan usai maka usailah tausiah mereka di televisi. Atau, ustadz maupun ustadzah ini setidaknya tak bisa memberikan tausiah pada saat jam prime time. Mereka hanya bisa memberikan tausiah saat orang-orang belum banyak yang bangun, karena rating mereka tak setinggi sinetron ataupun program-program favorit lainnya.

Lagu-lagu religi yang diluncurkan oleh penyanyi atau grup band ngetop perlahan mulai jarang terdengar lagi. Paling-paling, hanya radio-radio Islam saja yang masih memutar lagu mereka. Sama halnya saat sebelum bulan Ramadhan, mereka ini kembali melantunkan lagu-lagu mereka yang liriknya sangat bertentangan dengan Islam. Seolah lagu yang telah mereka ciptakan dengan lirik yang mengandung pelajaran selama bulan Ramadhan tersebut tak ada satupun kata yang menyangkut di pikiran mereka.

Yah, inilah ironi yang terjadi khususnya pada wajah pertelevisian di Indonesia saat bulan Ramadhan tiba. Lantaran karena meraih keuntungankah? Bisa jadi! Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam—entah hanya Islam KTP atau tidak—tentu menjadi lahan yang strategis bagi pihak Production House (PH) maupun televisi untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya lewat program-program yang dikemas khusus dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

Karena hanya meraih pasar, nilai-nilai Islam tidak terlalu diperhatikan dalam kemasan program mereka. Yang penting diminati pasar, maka program tersebut akan tetap dipertahankan. Tak peduli apakah tayangan itu mendidik atau tidak, asalkan laku itu tak menjadi soal.

Mengingat banyaknya acara televisi yang tidak mendidik dan lebih banyak mengandung mudharat ketimbang manfaatnya, seyogyanya kita sebagai muslim harus pintar-pintar memilah acara-acara televisi mana yang pantas kita tonton dan juga mengandung manfaat. Jika disana kita dapati pelakonnya telah berkelakar berlebihan bahkan menjadikan aturan Allah sebagai bahan guyonan maka tak sepantasnya kita menonton tayangan seperti ini.

Allah sendiri berfirman yang artinya, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” [QS. An-Nisaa’ [4] : 140]

Semoga momen Ramadhan ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena belum tentu kita akan bertemu lagi di bulan Ramadhan yang akan datang. Mari kita berlomba-lomba mencari bekal amalan akhirat sebanyak-banyaknya, karena Allah menjanjikan bahwa setiap kebaikan di bulan puasa ini akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Kita berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah agar puasa kita tak hanya mendapat lapar dan haus saja. Semoga Ramadhan tahun ini semakin menguatkan kita untuk tetap istiqomah di jalan Allah, menjadi muslim yang senantiasa bertakwa kepada-Nya, bukan menjadi muslim “musiman” yang beramal shaleh hanya pada saat bulan Ramadhan saja.

Senin, 15 Agustus 2011

Bahagia di Tengah Keterbatasan

Siapa bilang, hidup mewah dikelilingi harta yang melimpah dengan karir yang wah itulah kebahagiaan? Hei… tidakkah kita tahu bahwa itu bukanlah jaminan dari sebuah kebahagiaan?

Jika kita tahu hakekat syukur, hidup sederhana dengan harta yang pas-pasan pun bisa memberi kebahagiaan. Rasa syukur inilah yang membuat ketenteraman di hati. Meski tak dilimpahi harta yang banyak, tetapi ia merasa cukup.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." [QS. Ibrahim [14] : 7]

Bertambahnya nikmat tak harus bertambah dalam hal jumlah, tetapi perasaan tenteram di hati dan selalu merasa cukup berapapun banyaknya ini juga menunjukkan keberkahan dari segala nikmat yang diberi oleh-Nya. Harta yang melimpah tak menjamin seseorang merasa cukup, bahkan justru malah sebaliknya, selalu merasa kurang dan kurang.

Inilah berkah jika kita senantiasa bersyukur dan tak segan untuk menafkahkan sebagian harta kita di jalan Allah. Meski sedikit, tapi kita tetap mengambil sebagiannya untuk berzakat dan berinfaq karena keyakinan yang kuat akan balasan-Nya kelak di akhirat nanti. Betapa menguntungkannya jika kita melakukan perniagaan dengan Allah. Perniagaan yang akan tetap diberikan nilai oleh Allah berapapun kecilnya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” [QS. Al Baqarah [2] : 261]

Sayangnya, banyak diantara manusia justru terlena dengan nikmat semu duniawi. Begitu tergila-gilanya manusia dengan gelimang harta. Segala cara pun ditempuh, tak peduli apakah itu halal atau haram. Mulai dari korupsi, pencurian, penjambretan hingga mendatangi dukunpun dilakukan agar hartanya tak berkurang. Bahkan ada pula yang sampai hati tega membunuh orang untuk melancarkan aksi merampok uang.

Padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Ia hanyalah kesenangan sementara. Satu saat nanti, entah kapan, ia akan kita tinggalkan juga. Dan saat itu, bukan harta yang melimpah yang akan menyelamatkan kita. Bukan kekuasaan atau jabatan yang akan menolong kita. Bukan pula karena kita keturunan para petinggi negara, ulama dan para orang terhormat lainnya. Tetapi adalah amal kita.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” [QS. Al-An’aam [6] : 32]

Kehidupan di dunia ini tak lain hanyalah main-main dan sendau gurau belaka. Lucu bukan jika banyak orang yang terlalu menomor wakhid-kan urusan duniawi, seolah-olah tidak ada kehidupan setelah mereka mati nanti? Ketika duniawi tak dapat atau sulit direngkuh, mereka menjadi putus asa. Karena tak kuat menanggung problema duniawi yang tengah menghimpitnya, mereka pun mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri. Na’udzubillahi min dzalik.

Andaikan mereka tahu, hakekat hidup di dunia ini. Di dunia ini adalah ladang untuk mencari bekal hidup di akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya,“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” [QS Assyuura [42] : 20]

Kebahagiaan di akhirat kelak itulah kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang tak akan musnah oleh apapun. Kebahagiaan yang akan kekal selamanya.

Apalah artinya harta yang melimpah tetapi justru akan melalaikan kita dari urusan ukhrowi. Harta yang melimpah justru menjadikan kita amat kikir, enggan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Malahan harta itu justru dihabiskan untuk berfoya-foya menikmati dunia bahkan untuk bermaksiat ria.

Saat diberi kemudahan dalam urusan duniawi, ia malah sombong lagi membanggakan diri. Seolah-olah segala nikmat yang diberi oleh Allah ini adalah karena kemampuannya yang hebat mencari harta duniawi.

Inilah yang dikhawatirkan oleh beliau Rasulullah Saw saat manusia terlena dengan keindahan dunia dan seisinya. Bahkan Rasulullah Saw amat khawatir bila kita ditimpa cobaan kesenangan ketimbang cobaan penderitaan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku lebih khawatir terhadap cobaan kesenangan yang menimpa kalian daripada cobaan penderitaan. Sesungguhnya kalian telah dicobai dengan cobaan penderitaan, maka kalian bisa bersabar. Dan sesungguhnya dunia itu manis lagi menarik”. [HR. Abu Ya’la dan Al- Bazzar]

Maka bersyukurlah atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah, berapapun itu. Janganlah kita terpedaya dengan segala pesona keindahan duniawi, karena itu adalah kesenangan yang menipu. Dan bersabarlah akan datangnya pertolongan Allah, karena Allah selalu beserta orang-orang yang bersabar. [ntz]

Kamis, 14 Juli 2011

Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Cinta, cinta, oh cinta. Memang tak ada habisnya untuk membicarakan kata yang satu ini. Lebih-lebih bagi yang lagi jatuh cinta (siapa tuh?). Kata si penyanyi dalam sebuah nyanyian, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Duh, rasanya manis, asem, asin atau pahit ya?

Sebelum berbicara soal itu, kita intip dulu yuk, curahan hati dari seorang sahabat berikut! Ssstt… kayaknya ada yang lagi patah hati nih (patah hati atau patah gigi? Hehe).

“Bagaimana mungkin aku menempatkan dirinya begitu istimewa dalam relung hatiku? Hingga aku melupakan kasih dari Tuhanku. Aku menjadi seorang pengkhianat. Aku menyangka bahwa yang kulakukan adalah sebuah jalan dakwah namun hanya bermuara pada dusta. Aku banyak berkholwat dengannya hingga tak kusadari aku menyandarkan hidupku padanya.

Aku terlanjur mengukir namanya di hatiku dan berharap bahwa dialah orang pertama dan terakhir yang dipilih Allah untuk melengkapi hidupku. Namun ternyata yang terjadi tidaklah seperti yang aku harapkan dulu. Aku merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah kutemukan. Aku merasa telah menemukan tanpa tahu yang sedang kucari. Aku merasa masih terus mencari tanpa tahu apa yang telah hilang.”


Hm, kalau lagi jatuh cinta bawaannya memang melankolis, suka menulis yang puitis-puitis seperti yang ditulis oleh salah seorang sahabat diatas. Yah, seperti inilah jika anak cucu adam dihantui virus cinta. Linglung dan serba salah, tak tahu apa yang harus dilakukan. Di setiap tempat selalu ada si jantung hati. Mau di kelas, di kampus, di rumah, di jalan, di bus, ingat si dia terus. Jangan ditanya berapa lama ngelamunin si dia. Wuih… pokoknya sampai menyita waktu belajar, ngerjain tugas tak kunjung kelar, dan menjalar-jalar pada kegiatan lain pula. Duile, sampai segitunya?

Mencintai dengan lawan jenis itu adalah wajar. Dan memang itulah seharusnya. Justru agama melarang jika kita sama sekali tidak punya rasa tertarik dengan lawan jenis, sementara malah menyimpan rasa dengan yang sejenis. Na’udzubillah. Tetapi Islam mengatur bagaimana rasa ketertarikan dengan lawan jenis ini kita jaga agar tidak bertentangan dengan aturan Islam.

Tentu pengikraran cinta dalam bentuk pacaran yang membudaya di kalangan anak muda saat ini adalah hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Cinta dua sejoli yang ditunjukkan dengan saling bertatapan, berpegangan tangan, bahkan sampai yang lebih dari itu, jelas yang seperti ini akan mendapat lampu merah dalam Islam.

Islam menuntunkan kepada umatnya untuk menahan pandangannya jika melihat lawan jenis yang bukan mahramnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya…” [QS. An-Nuur [24] : 30]

Beliau Rasulullah Saw pun juga pernah bersabda kepada Ali Ra,“Hai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita) dengan satu pandangan, karena yang pertama itu tidak menjadi kesalahan, tetapi tidak yang kedua.” [HR. Abu Dawud]

Begituhalnya dengan berpegangan tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Jelas berpegangan tangan dengan seseorang yang belum halal untuknya ini dilarang dalam Islam. Aisyah Ra berkata, “Tangan Rasulullah Saw tak pernah sama sekali menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya”. [HR Bukhari dan Muslim]

Bagaimana sobat muda? Memang, tidak ada ayat maupun hadits yang menerangkan bahwa pacaran itu dilarang. Tetapi kebiasan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh sepasang muda mudi yang telah berikrar cinta sebelum pernikahan ini pasti akan menjurus pada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Ingat! Jalan syaitan itu penuh dengan hal-hal yang indah, dan oleh syaitan jalan yang menyimpang itu dijadikan sebagai hal yang lumrah. Pegang tangan sudah lumrah. Cipika cipiki juga dikatakan lumrah. Bahkan pada yang lebih dari itupun masih juga dinyana lumrah karena sudah biasa dilakukan oleh orang kebanyakan.

Inilah yang terjadi pada umumnya masyarakat kita terutama di kalangan anak muda. Cinta diungkapkan di waktu dan tempat yang tidak tepat, pada saat mereka belum masuk dalam lingkup pernikahan. Saat si dia mengungkapkan perasaannya, maka itu artinya si dia telah “menembak” si gadis untuk menjadi pacarnya. Jika si gadis menjawab “ya”, maka itu artinya mereka berdua telah jadian. Saat inilah, keduanya seolah sudah menjadi “halal” dan dianggap hal yang wajar bagi kebanyakan orang jika mereka berdua sedang bermesraan.

Lalu bagaimana jika hanya sekadar smsan, fban, chatting dan media-media lainnya tanpa ketemuan? Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” [QS. Al-Israa’ [17] : 32]

Allah telah melarang pada jalan-jalan yang menyebabkan seseorang mendekati zina. Siapa yang bisa menjamin hanya smsan saja tanpa hasrat untuk bertemu? Padahal kita tahu bahwa syaitan itu teramat lihai untuk menghasut manusia. Pasti syaitan tidak akan membiarkan manusia stagnan pada tahap smsan saja. Bisikan-bisikan untuk bertemupun semakin digencarkan. Setelah bertemu, tentu syaitan takkan puas hanya sampai disini. Godaan-godaan lain terus saja dibisikkan hingga manusia benar-benar berada dalam kesesatan.

Dan jika kita bijak menelaah, dari katanya saja sudah sangat jelas bahwa kebiasaan smsan banyak yang tidak mengandung manfaatnya. Sedang Allah berfirman tentang sifat orang mukmin yang beruntung, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” [QS. Al-Mu’minuun [23] : 3]

Saat Cinta Tak Berbalas

Makna cinta itu sebetulnya luas. Cinta bisa juga diartikan dengan menyayangi, menyayangi sesama saudara semuslim. Sebagaimana sabda-Nya, “Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya (sebagaimana) apa yang ia cintai untuk dirinya.” [HR. Bukhari]

Tetapi sayangnya, orang melulu mengaitkan kata “cinta” dengan virus merah jambu yang menghinggapi hati para anak cucu adam dan hawa. Saat yang dicintai ternyata telah pergi, maka pupuslah sudah semangatnya. Saat yang dicintai ternyata justru menaruh hati dengan yang lain, maka patahlah sudah hatinya. Akibatnya, mereka jadi hilang semangat untuk menjalani hidup. Murung, menyendiri, meratapi perjalanan cintanya yang tak sesuai harapan. Karena sempitnya akal, mereka sampai mengakhiri nyawa hanya karena si dia telah pergi atau cintanya ditolak oleh si pujaan hati.

Anis Matta pernah berkata tentang cinta,“Kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak, atau tak beroleh kesempatan, untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumbu kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.”

Sedang Allah juga berfirman yang artinya,“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (nabi)...” [QS. Ali Imran [3] : 31]

Allah-lah cinta hakiki kita. Jika kita mencintai Allah, maka kita tak akan bertindak sesuatu yang tidak dituntunkan oleh Nabi Saw dan kita akan mengamalkan apa yang disunnahkan oleh beliau. Tentu saat kita menaruh hati dengan seseorang yang belum halal untuk kita, maka kita menjaga perasaan itu agar jangan sampai menjadi penyebab kita tersesat dari jalan-Nya. Jika kita sudah merasa mampu, maka ungkapkan perasaan itu melalui seorang perantara (pimpinan) untuk menapak ke jenjang yang dihalalkan, yakni pernikahan. Melalui pernikahanlah, hati dan pandangan kita akan terjaga. Segala nafsu yang menghujam akan dapat tertahan karena pernikahan.

Lalu bagaimana jika ungkapan perasaan itu tak bersambut atau kalah cepat dengan orang lain yang lebih dulu mengkhitbahnya? Tentu, kita tak perlu patah hati karena ini. Kita berprasangka baik pada Allah, karena sesuatu yang tidak kita sukai belum tentu itu buruk bagi kita. Yakinlah, akan ada jalan yang lebih indah yang Allah siapkan untuk kita yang tak pernah kita sangka sebelumnya. Karena apa yang ada di samping kita, semua akan hilang. Dia-lah yang akan selalu ada untuk kita. Saat kita memilih untuk mencintai-Nya, maka kita akan menerima dengan kerelaan hati bahwa segala yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita. Semoga bermanfaat!

*Artikel ini awalnya ditulis oleh sobat sy, tp krn tulisannya byk yg tidak sesuai dgn yang dimaksudkan, maka tulisan tsb dirombak menjadi seperti ini. It mean, bukan krn penulisnya yg lg kena virus merah jambu trus nulis about LOVE kyk gini! :D

Rabu, 22 Juni 2011

Berani Bersuara di Depan itu… Penting Lagi!


Satu ketika dalam sebuah kajian yang dihadiri oleh kawula muda, sang ustadz memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk bertanya. Oh, tragis! Tak satupun ada dari mereka yang mengacungkan telunjuk jarinya untuk bertanya dari materi kajian yang sudah diberikan. Sang ustadz pun dengan terheran-heran bertanya, “Ini tidak ada yang bertanya, apa sudah mudheng (paham) atau babarblas malah tidak tahu?”

Tidak ada jawaban. Sang ustadz pun tanpa menunggu lama segera mengakhiri kajian karena tidak yakin akan ada yang bertanya sekalipun diberi kesempatan.

Dalam kesempatan lain, seringkali ketika pemateri meminta salah satu audiens untuk maju ke depan menyampaikan gagasan tentang masalah tertentu, lagi-lagi tak ada satupun dari mereka yang berani maju ke depan. Kalaupun ada, itu hanya segelintir saja. Itupun hanya si itu-itu saja, bukan si ini atau si itu yang lain.

Yah, inilah yang terjadi di kalangan generasi muda sekarang. Amat sedikit kita jumpai dari mereka yang berani untuk bersuara di depan. Alasannya beragam, ada yang memang tidak berani maju di depan, takut salah, tidak tahu apa yang akan dikatakan jika maju di depan nanti dan lain sebagainya. Tetapi mayoritas dari mereka, permasalahannya adalah sama, karena kurangnya rasa percaya diri untuk bisa bersuara di depan audiens. Baru maju saja rasanya sudah panas dingin, apalagi yang lebih dari itu.

Tetapi sesungguhnya, ini bukan masalah bisa tidaknya seseorang untuk bersuara. Seseorang yang terkenal banyak omong sekalipun belum tentu ia akan berani bersuara di depan. Ini tergantung dari kemauan kita sendiri untuk melatih diri agar berani bersuara di depan.

Bagaimanapun, bersuara di depan khalayak ramai amat penting kaitannya dalam perjuangan dakwah. Tidak mungkin selamanya kita akan menjadi pendengar saja. Jika generasi pendahulu yang biasanya bersuara di depan memberikan materi kajian telah tiada, maka generasi peneruslah yang nantinya akan menggantikan. Lalu bagaimana jika para generasi penerus ini justru banyak yang ciut nyali untuk bersuara di depan?

Mari, sobat muda, kita pacu keberanian kita untuk juga bersuara di depan. Mulailah dari forum yang kecil yang hanya dihadiri beberapa gelintir orang saja atau kita juga bisa bertanya dalam sebuah kajian. Sama halnya dengan menulis yang perlu latihan, latihan dan latihan, berbicara di depan pun juga perlu latihan. Seorang penyiar radio yang sehari-harinya bercuap-cuap di udara saja selalu menyempatkan diri untuk berlatih berbicara entah di kamar, di jalan ataupun tempat-tempat lainnya, apalagi kita.

No worry, guys! Everyone is nervous!
Nervous itu wajar, semua orang mengalaminya. Tak perlu kita takut keselip, enggan karena suara kita tak merdu, dan kerisauan-kerisauan lainnya. Kita harusnya malu dengan mereka, orang-orang yang katanya “ndeso” yang berebut bertanya saat kajian Ahad Pagi digelar. Padahal mereka ini sebelumnya tak pernah memegang mikrofon, apalagi suara mereka didengar dan dilihat oleh ribuan jamaah yang datang, belum lagi ditambah pula jutaan pendengar lain di seluruh dunia yang mendengarkan via radio, satelit maupun streaming. Tuh, kan? Masa’ kita kalah dengan mereka? So, ayo latih lidah kita untuk berani bersuara di depan ya!

Jumat, 27 Mei 2011

Jangan Jadi Generasi Cemen Deh!

Miris sekali rasanya saat kita mendengar banyak dari kalangan mahasiswa yang katanya terdidik itu justru gampang terpedaya dan masuk dalam gerakan NII. Bukan hanya ini saja, saat isu nabi palsu menyeruak, ternyata banyak dari pengikutnya adalah generasi muda yang awalnya juga mengaku beragama Islam. Isu terorisme yang masih saja didengungkan hingga saat inipun juga dikabarkan telah merekrut generasi-generasi muda untuk menjalankan aksi terorisme yang sangat bertentangan dengan Islam tersebut.

Kenapa ini bisa terjadi pada generasi muda? Kita lihat sekarang, kondisi generasi muda di luar sana seperti apa. Betapa banyak dari mereka yang gampang terbawa arus globalisasi. Budaya kebarat-baratan menyusup sedemikian cepatnya ke dalam diri mereka. Mulai dari gaya berbusana, sikap dan perilaku hingga pada pemikiran mereka yang cenderung bertentangan dengan Islam.

Budaya pacaran di kalangan anak muda sudah bukan hal yang aneh untuk sekarang ini, bahkan bisa dikatakan sudah biasa. Rasanya amat mustahil, jika pacaran hanya sekedar via telpon, sms, fb dan lain sebagainya tanpa ada keinginan untuk bertemu. Pun tidak bertemu sekalipun, mustahil rasanya jika bahan yang diobrolkan adalah sesuatu yang mengandung manfaat, misalnya mengobrolkan tentang serangan ulat bulu mungkin. Jelas, sangat dipastikan obrolan dua insan manusia yang terkena virus merah jambu ini adalah obrolan yang amat sangat tidak penting. Yang benar saja, mengobrolkan serangan ulat bulu dari penyebab hingga solusi? Kalau kata gaulnya sih, “Sumpe lu? Masa’ pacaran teoritis kayak gini?”.

Bahkan seks bebas pun kian marak dilakukan oleh kalangan anak muda. Tingkat aborsi semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pernikahan karena MBA (married by accident) pun tak kalah menjamurnya.

Mau dibawa kemana jika generasi muda pada kayak gini? Yang sangat ironis jika para generasi muda Islam pun juga ikut terjebak dalam kungkungan pergaulan bebas tak kenal mana yang muhrim mana yang tidak ini. Katanya ngaji, tapi masih demen yang namanya pacaran. Pakaian yang dikenakan pun dengan pedenya menjiplak gaya berbusananya para selebritis. Biarpun menutupi, tapi masih perhitungan soal ukuran panjang dan lebarnya. Pakaian sengaja dibuat yang ngepas, bahkan amat ngepas di badan.

Soal urusan berlomba-lomba dalam kebajikan, duh jangan ditanya deh! Mereka sudah keburu nyerah sebelum bertanding! Bahkan bisa dibilang sama sekali tak ada niat untuk ikut berlomba! Jarang shalat di masjid, giliran pas datang ke masjid, eh malah datang di urutan buncit. Ngaji juga tak beda jauh, datang paling akhir, duduk paling ujung, dan pulang paling awal (ada kata “paling” tapi kok yang jelek-jelek ya). Belum lagi, masih ada cerita ngantuk pas ngaji, nggak bawa buku catatan, hingga pada alasan ijin beberapa kali karena kesibukan duniawi. Kalau ditimbang-timbang, masih mending sih daripada mereka yang ogah mengaji. Tapi kan, Islam menuntun kita untuk masuk ke dalamnya secara kaffah bukan setengah-setengah? Nah, lho?

Bagaimana, sobat muda? Jika para generasi muda bentuknya pada kayak gini semua, apa yang terjadi nantinya? Bukan hal yang aneh kan jika banyak generasi muda yang gampang terbawa arus? Makanya, jangan jadi generasi cemen, ingah-ingih, lembek bin letoy dalam urusan perjuangan kita untuk-Nya. Manfaatkan masa produktif kita ini untuk berjuang menegakkan syariat Islam dimanapun dan kapanpun kita berada. Kita harus menjadi orang pertama yang memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat, bukan menjadi orang pinggiran, orang di urutan belakangan yang hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Rabu, 18 Mei 2011

Jangan Mudah "Termakan" Berita, Fatabayyanuu...!


Saudaraku, seringkali kita mudah termakan dengan sebuah berita yang datang kepada kita yang mana kabar tersebut belum tentu benar adanya. Beberapa waktu lalu, seorang facebooker bertanya tentang kebenaran berita yang dimuat oleh salah satu portal online lewat sebuah koment di facebook.

Andaikan kita tak bijak menelaah berita tersebut, kita pun akan mudah percaya juga. Apa pasal? Karena berita itu dimuat oleh salah satu portal online yang lumayan kaliber, dan bersumber dari seorang narasumber (mungkin menurut orang) terpercaya!

Tetapi apakah karena pertimbangan ini, kita lantas percaya begitu saja dengan kabar yang dimuat oleh portal online tersebut? Tentu saja, sebagai muslim yang baik, kita tak seyogyanya langsung mempercayai kabar yang menyudutkan pihak tertentu itu sebelum kita bertabayun kepada yang bersangkutan.

Allah berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [QS Al Hujuraat 6]

Islam menuntunkan kita untuk bertabayun terlebih dahulu atas berita miring yang beredar tersebut. Memeriksa dengan teliti, apakah berita itu benar atau hanya fitnah belaka, kepada pihak yang bersangkutan. Tidak seharusnya kita keburu percaya, bahkan sampai menambah-nambahi kabar tersebut yang (lagi-lagi) hanya bersumber dari katanya, katanya dan katanya, termasuk kata-katanya sendiri tanpa kroscek kepada yang bersangkutan.

Kalau toh, setelah kita bertabayun ternyata kabar tersebut memang benar adanya, maka tugas kitalah sebagai saudara sesama muslim saling mengingatkan satu dengan yang lain. Bukan malah menggunjingkan, menyebarkan aib saudara kita kepada khalayak. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa menutup aib orang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat." [HR. Muslim juz 4, hal. 2074]

Tetapi ironisnya, banyak umat Islam yang terpedaya oleh kabar-kabar yang datang kepada mereka. Mereka begitu mudahnya percaya dengan kabar tersebut, bahkan hingga menyulut emosi karena merasa didholimi. Pihak yang merasa didholimi tidak terima dengan perlakuan pihak yang (menurut mereka) mendholimi. Tindakan saling balas pun terjadi, bahkan hingga berujung pada kekerasan.

Padahal, pihak-pihak yang bertikai adalah sama-sama orang Islam yang juga bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Tidak ingatkah akan sabda Rasul bahwa muslim satu dengan muslim yang lain itu ibarat satu tubuh? Kenapa tega saling menyakiti seperti ini hanya karena sebuah kabar yang belum tentu terbukti kebenarannya? Allahu'alam.

Fatabayyanuu... Maka periksalah, kroscek kebenaran berita yang datang kepada kita itu dengan teliti. Jika kabar tersebut memang benar, dan pihak tersebut memang telah berbuat kekhilafan, maka tugas kita adalah meluruskan, tawaashaubilhaq wa tawaashaubishshabr, saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Semoga bermanfaat.

Senin, 09 Mei 2011

Blak-blakan di Dunia Maya Semakin Membudaya, Potensi Jadi E-Lebrity-kah?


Masih asing dengan sebutan E-lebrity? Istilah ini belakangan sering digunakan untuk para neter yang populer lewat postingannya di dunia maya. Sederet nama bahkan mendadak menjadi E-lebrity karena postingan video yang merekam aksi kocak mereka ditonton oleh berjuta pasang mata. Sebut saja Briptu Norman, Shinta dan Jojo, Bona dan sederet nama lainnya. Bermula dari E-lebrity beberapa diantara mereka bahkan ada yang benar-benar menjadi selebriti : main sinetron, nyanyi, dan juga jadi bintang iklan! Lalu apa itu E-lebrity?

E-lebrity merupakan seorang atau sekelompok orang yang terkenal dengan sesuatu yang telah mereka posting di dunia maya. Mereka tenar karena postingan mereka entah berupa video, foto, tulisan dan lain sebagainya. Sejauh ini, kebanyakan baru pada unggah video yang dengan cepat menjadikan pemainnya sebagai seorang E-lebrity. Namun, tak semua video yang diunggah akan juga tenar. Tergantung dari keunikan, kekocakan dan siapa yang memerankannya.

Mungkin video Briptu Norman yang menyanyi lipsync lagu Chaiyya Chaiyya dan gaya tariannya yang hampir mirip dengan aslinya, belum tentu akan melejit jika aksinya tersebut tak dilakukan di saat ia tengah bertugas jaga dan tak mengenakan seragam polisi. Bagi masyarakat awam, adalah hal yang tak biasa ada seorang polisi yang punya jiwa humoris tinggi menghibur sesama lewat aksi spontanitasnya. Maklumlah, selama ini pandangan masyarakat cenderung menganggap polisi sebagai sosok yang ditakuti. Namun anggapan ini perlahan sirna setelah kehadiran seorang Briptu Norman dengan gaya kocaknya lewat sebuah video berjudul “Polisi Gorontalo Menggila” di situs YouTube.

Briptu Norman hanyalah satu dari sekian orang yang menjadi E-lebrity karena postingan video yang menampilkan dirinya menarik jutaan penjelajah dunia maya. Banyaknya situs-situs jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain sebagainya membuat namanya cepat mencuat. Dan inilah faktanya, saat seseorang menjadi perbincangan di dunia maya maka dia akan cepat pula menyebar di dunia nyata. Media-media massa yang menangkap hal ini, tentu tak akan ketinggalan memuat kabar tentang orang yang menjadi topik hangat di dunia maya tersebut. Al hasil, semakin tenarlah seseorang. Bisa jadi, ia tak hanya sekadar menjadi E-lebrity, tetapi benar-benar menjadi seorang selebriti.

Inilah dunia maya. Seseorang yang bukan siapa-siapa akan mendadak menjadi terkenal. Tetapi karena cepatnya seseorang menjadi tenar, semakin cepat pula meredupnya, terganti oleh isu-isu lain yang lebih up to date. Seperti halnya Prita Mulyasari. Saat kasusnya didengungkan di dunia maya, sontak publik memberontak. Para facebooker ramai-ramai mendukung Prita agar dibebaskan dari jerat hukum lewat sebuah halaman di situs facebook. Prita yang bukan siapa-siapa dalam sekejap menjadi E-lebrity pada saat itu. Namun namanya meredup setelah kasusnya tak lagi update.

Pengaruh situs-situs jejaring sosial memang sangat memungkinkan seseorang menjadi E-lebrity. Pada situs Twitter misalnya, dengan memberikan hastag (tanda #) saat men-tweet sesuatu, maka sangat dimungkinkan akan jadi trending topic jika jutaan tweeps lainnya juga membicarakan hal yang sama. Situs Facebook yang merupakan situs yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk Indonesia juga sangat memungkinkan seseorang dengan cepat menjadi tenar. Misalnya dengan membuat page ataupun groups yang mendukung seseorang, maka dengan cepat akan direspon oleh jutaan facebooker.

Isu yang bermula dari situs YouTube akan dengan kilat dibawa juga ke dalam situs Twitter atau Facebook. Dua situs yang paling banyak membernya ini akan dengan cepat menyebar hingga diperbincangkan pula di dunia nyata. Bagi orang awam yang belum paham betul dengan internet, seketika akan tahu juga tentang siapa itu Briptu Norman, siapa Shinta dan Jojo dan sosok-sosok lainnya karena seringnya mereka muncul di TV.

Penjelajah Dunia Maya Potensi Jadi E-lebrity

Disadari atau tidak, bagi siapapun yang menjelajah dunia maya akan berpotensi menjadi E-lebrity. Ia yang awalnya tak banyak dikenal orang akan seketika dikenal banyak orang saat ia eksis di dunia maya. Para facebooker yang rajin meng-update status tiap jamnya, dan aktif memberikan komentar pada facebooker lain akan sangat memungkinkan seseorang menjadi terkenal. Meski konteks “terkenal” ini hanya mencakup pada orang-orang yang menjadi temannya, namun ia akan serasa seperti seleb betulan.

Belasan facebooker mengantri untuk di-confirm menjadi temannya dalam setiap harinya. Belasan komentar pun juga muncul beriringan saat ia menulis status. Status yang hanya ditulis iseng bin sekenanya pun langsung mengundang facebooker lain untuk mengomentari. Ratusan foto dengan berbagai gaya yang diunggah di facebook membuat ia tak hanya tenar di dunia maya, tetapi juga akan jadi pusat perhatian di dunia nyata karena wajahnya terpajang jelas di foto profil dan album foto. Wow! Meski belum setenar Briptu Norman atau Shinta dan Jojo, tetapi ia sudah termasuk dalam sebutan E-lebrity!

Riskan Pengaruh Negatif!


Bagaimana sobat muda? Tertarik menjadi seorang E-lebrity? Eits, tunggu dulu! Alangkah baiknya kita analisa lebih jauh lagi. Pada umumnya, situs-situs pertemanan seperti ini amat riskan dari pengaruh-pengaruh negatif. Terlalu terbukanya membagikan informasi, dari nama, alamat lengkap hingga pada nomor HP bisa berdampak yang tidak baik bagi penggunanya. Banyaknya kasus penipuan, penculikan, pemerkosaan hingga pada pembunuhan salah satu penyebabnya adalah karena terlalu terbukanya membagikan informasi kepada para facebooker yang belum tentu dikenalnya.

Misalnya pada statusnya ia menyebut tempat dimana ia berada saat ini. Jika ada facebooker yang berniat jahat dengannya, bisa jadi orang tersebut akan menemuinya di tempat yang ia sebutkan tadi. Sayangnya, banyaknya kasus penipuan, penculikan dan lain sebagainya ini tak terlalu dipedulikan oleh para facebooker. Mereka tetap membagikan informasinya secara detail dengan berbagai alasan tertentu. Malah, sebagian dari mereka justru kelewat over, terlalu buka-bukaan mengekspos semua hal tentang dirinya. Sampai hal yang berbau privasi sekalipun juga dibagikan disini. Padahal teman-teman yang di-confirm tak hanya teman yang dikenalnya saja, tetapi juga pada teman-teman yang belum dikenalnya atau bahkan tak tahu sama sekali asal usulnya.

Tak hanya itu, para facebooker pun juga kelewat kebuka mengunggah foto-foto pribadi dengan berbagai gaya. Yang menjadi miris adalah banyak akhwat berjilbab ikut-ikutan memajang foto-fotonya di facebook. Foto-foto dengan menampilkan wajah ovalnya, tatapan berkilatnya, senyumnya yang keimutan, dan hanya sendirian banyak mewarnai di profil facebooknya. Padahal foto-foto seperti ini akan mengundang para kaum adam untuk menjadikannya koleksi di folder pribadi miliknya. Bahkan jika ia termasuk orang iseng, foto-foto yang tadinya berjilbab bisa diedit menjadi foto-foto porno yang kemudian disebarkan di dunia maya. Na’udzubillah.

Inilah akibatnya jika kita tak hati-hati menggunakan internet. Ironisnya, sikap blak-blakan di dunia maya justru semakin membudaya. Publik penjelajah dunia maya sudah amat terbiasa memposting sesuatu yang menyangkut pribadinya. Hampir sulit dibedakan mana yang privasi, mana yang harus ditutupi, mana yang boleh dibagikan dan mana yang harus disimpan. Jelas ini sangat bertentangan dalam Islam yang menuntunkan bagi pemeluknya untuk menjaga hal-hal yang sifatnya pribadi dan tak pantas jadi konsumsi umum.

Sesuai dengan naluri manusia sebagai makhluk sosial yang ingin dikenal oleh banyak orang, ingin dihargai dan juga dihormati oleh khalayak, tentu akan sangat senang rasanya jika dirinya jadi seorang E-lebrity. Tetapi sobat muda, alangkah bijaknya jika ketenaran itu bukan dilihat dari diri kita, melainkan adalah apa yang telah kita posting di dunia maya tersebut bisa merubah ke arah kebajikan. Postingan-postingan kita yang berupa tulisan artikel dan sarat akan pelajaran itu menjadi populer di kalangan penjelajah dunia maya. Bukan kita yang tenar, tetapi adalah tulisan kita, tanpa mereka tahu identitas penulis aslinya. Karena jika kita yang menjadi tenar, bisa jadi ini akan membelokkan niat kita yang tercampuri oleh riya’.

Memposting sesuatu yang membawa perubahan ke arah kebajikan tak harus dalam bentuk artikel yang diposting lewat blog saja, tetapi juga bentuk lainnya seperti foto atau gambar maupun video yang isinya mengandung manfaat. Bagi para facebooker yang hanya bisa menulis di kelas update status pun bisa mengaktualisasikan diri dengan meng-update status yang memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Di fitur minim karakter ini, facebooker tetap bisa berkarya membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi facebooker lain. Begitu halnya dengan para tweep juga bisa membagikan tweet yang sarat akan manfaat. Meski hanya mencakup 140 karakter, namun bisa menginspirasi tweep lain untuk bersama melakukan perubahan.

Nah, sobat muda, mari kita budayakan internet untuk menebar kebajikan. Dan mari kita pupolerkan syariat Islam lewat dunia maya sebagai salah satu upaya kita dalam berdakwah. Jika seorang Briptu Norman saja bisa dengan cepat tenar hanya dengan bernyanyi lipsync, maka kita pun dengan pertolongan-Nya akan bisa menyerukan Islam hingga tak menjadi asing lagi di mata mereka yang belum sepenuhnya mengenal Islam. Are you ready, sobat muda? [frizz]

Minggu, 24 April 2011

Saat Berkata Bohong Sudah Menjadi Kebiasaan

Saudaraku, betapa mencari orang yang berkata jujur itu amat langka kita temui sekarang ini. Dari orang yang di luar kita lihat sebagai sosok pendiam, super melankolis, lugu atau terlihat baik-baik saja belum tentu akan menjamin bahwa dirinya adalah orang yang jujur.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian "menegangkan" di Stasiun SJ saat saya dan sahabat saya bertemu dengan orang yang sudah kami kenal selama beberapa hari sebelumnya. Kami sebetulnya janjian di tempat ini hanya bermaksud untuk bertabayun saja, apakah benar ia telah memberikan keterangan bohong seperti yang kami dengar dari salah seorang sahabat kami.

Dan karena pertolongan Allah, kami akhirnya tahu, bahwa ia tak hanya membohongi kami lewat ceritanya, tetapi juga saat janjian dengan kami di stasiun itu pun, ia masih saja membohongi kami dengan skenario kebohongannya yang (sepertinya) sudah dipersiapkan secara matang. Wallahu'alam.

Saya sendiri terheran-heran dengan kelihaiannya mengemas cerita yang menurut saya lebih mirip kayak sinetron ini (Ups! Alergi sinetron? Oke, katakan saja lebih mirip kayak telenovela. Masih alergi juga? Baiklah, kayak film India :p).

Saya juga terheran-heran dengan kepiawaiannya berakting, melenggang ke bagian informasi, lalu melangkah masuk ke gerbong memeriksa tempat yang nanti akan didudukinya. Saat saya bertanya, ia mampu menjawab pertanyaan saya. Saat saya menanyakan keganjilan dari penuturannya, ia dengan gesit memberikan alasannya. Betapa lihainya ia berbohong. Dari kelihaiannya berbohong, nampak jelas ia sudah amat terbiasa melakukan ini. Wallahu'alam.

Yah, saudaraku, amat miris jika berkata bohong sudah menjadi kebiasaan seperti ini, bahkan jika itu digunakan untuk kejahatan. Padahal Rasulullah Saw bersabda, "Saya menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bergurau”.[HR. Baihaqi]

Berbohong meski hanya bergurau saja dilarang apalagi itu digunakan untuk menipu orang lain dengan tujuan-tujuan tertentu. Dan sadar atau tidak, kitapun seringkali terjebak dalam obrolan-obrolan yang sifatnya hanya guyonan tetapi lebih menjurus ke ngibul. Orang yang kita ajak berbicarapun sebetulnya sudah tahu apa yang kita katakan hanya kibulan, tetapi mereka enjoy-enjoy saja karena dinilai lucu--semoga kita tidak termasuk yang demikian. :)

Dan diakui atau tidak, para orang tua pun seringkali berkata tidak jujur pada putra-putrinya yang masih kecil. Saya jadi ingat, saat mendengar seorang bapak bercerita bahwa putrinya terus-terusan merengek dibelikan sepatu yang pernah dijanjikan oleh si bapak. Padahal, ia tak benar-benar akan membelikan sepatu untuk putrinya. Ia berkata seperti itu hanya untuk menenangkan si anak yang kecewa saat ia tak dibelikan sepatu pada saat itu. Contoh ini hanya sebagian, belum pada bagian-bagian lain yang tanpa kita sadari telah berkata bohong.

Padahal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi, diceritakan bahwa saat Abdullah bin 'Amir RA dipanggil oleh ibunya, ibunya berkata, “Kesinilah ! kamu saya beri”. Maka Rasulullah SAW yang saat itu sedang duduk di rumahnya bersabda, “Apakah betul engkau akan memberinya?”. Ibunya berkata, “Saya akan memberinya korma”. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada ibunya, “Ketahuilah, sesungguhnya jika kamu tidak memberi sesuatu kepadanya niscaya kamu dicatat dusta”.

Maka biasakanlah diri kita untuk senantiasa berkata dan berlaku jujur mulai dari hal sekecil apapun. Ingat Sabda Nabi Saw berikut. "Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta".[HR. Muslim]

Sabtu, 16 April 2011

Tak Ada yang Dapat Menolak Azab-Nya


Setidaknya ini menjadi peringatan bagi kita bersama. Gempa sekaligus tsunami hebat yang menerjang wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret 2011 lalu merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Sehebat apapun teknologi yang diciptakan manusia tak akan bisa menolak dari datangnya bencana. Jepang yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas teknologi pun tak bisa terhindar dari luapan air laut yang tumpah melumat siapa dan apa yang dilaluinya. Badan Kepolisian Nasional Jepang pun merilis jumlah korban tewas dan juga hilang ada lebih dari 20 ribu orang.

Sebetulnya Jepang punya sejarah panjang dalam hal gempa karena letaknya yang berada di sepanjang “cincin api” pasifik. Karena inilah, Jepang memiliki aturan membangun gedung yang sangat baik, sementara gedung-gedung besar telah didesain untuk tidak ambruk (oleh gempa). Begitu juga, rakyat Jepang sangat terlatih baik menghadapi gempa maupun tsunami. Namun segala perlindungan ini bukan lantas Jepang terbebas dari ancaman bencana yang bisa menghilangkan nyawa manusia. Seperti dilansir tribunnews.com Badan Kepolisian Nasional Jepang pada 21 Maret lalu merilis jumlah korban tewas dan juga hilang ada 21.459 orang.

Reaktor-reaktor nuklir yang di-setting memiliki sistem peringatan gempanya sendiri sehingga akan berhenti otomatis dan bangunannya yang didesain tahan gempa bukan lantas dijamin aman dari guncangan hebat. Beberapa reaktor-reaktor nuklir di Jepang ini meledak, dan rakyat Jepang --belum reda ketakutan mereka dengan guncangan gempa dan tsunami—masih pula dipanikkan oleh radiasi nuklir. Bukan hanya rakyat Jepang, penduduk lain yang berada di negara-negara lain pun juga dibuat panik oleh pancaran radiasi nuklir ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,”
[QS. Ali Imran [3] : 10]

Tidak ada sesuatupun yang bisa menolak dari datangnya siksa Allah. Sehebat apapun manusia, tetap tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Negara sekelas Jepang pun menjadi tak berdaya saat gempa dengan kekuatan 8,9 SR mengguncang sebagian wilayahnya di timur laut Jepang. Tak lama kemudian, gempa dengan kekuatan besar ini menyebabkan tsunami hebat menerjang setiap benda berikut nyawa yang dilewatinya.

Meski Jepang riskan terjadi gempa karena terletak di perbatasan dua lempeng tektonik, namun pada faktanya hingga kini pun, teknologi semaju apapun yang diciptakan oleh manusia tetap tak bisa memprediksi datangnya gempa. Selama ini para ahli hanya bisa memprediksi wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi gempa, tetapi lagi-lagi tak mampu untuk memberi informasi kapan gempa akan terjadi.

Para ahli tersebut juga mengatakan untuk tempat-tempat dengan tingkat aktivitas historis tinggi, peluang bahwa sebuah gempa akan mengguncang di periode beberapa dekade mendatang bisa amat besar. Tetapi meski Jepang punya sejarah panjang dalam hal gempa, gempa yang terjadi bulan Maret lalu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah di Jepang. Gempa terdahsyat sebelum ini terjadi pada tahun 1923 yang mengguncang wilayah selatan Tokyo dan menewaskan 140.000 nyawa.

Sementara di Indonesia sendiri, secara beruntun gempa-gempa dengan kekuatan besar terus saja mengguncang. Mulai dari gempa yang juga berpotensi tsunami di Aceh dan Sumatra, gempa di Jogja dan kota-kota lainnya yang meluluh lantakkan rumah-rumah bahkan ribuan nyawa melayang karena guncangan hebat ini.

Memang para ahli banyak mengatakan bahwa Indonesia riskan terjadi gempa karena letaknya yang berada di sepanjang “cincin api” pasifik, tetapi tak ada yang tahu jika Indonesia bakal dilanda gempa secara terus-menerus dengan waktu yang tak terpaut lama, bahkan di daerah yang sebelumnya tak punya sejarah dalam hal gempa. Siapa yang bisa mengira gempa --dan beberapa diantaranya menimbulkan tsunami-- terjadi dengan jarak waktu yang amat singkat seperti ini?

Tahun 2004, beberapa wilayah di Aceh dan juga Sumatra diguncang gempa dengan kekuatan 9,1 SR dan menimbulkan tsunami besar yang menewaskan 166 ribu di Aceh dan 320 ribu orang dari delapan negara yang dilewati gelombang itu hingga ke Thailand, pantai timur India, Sri Lanka, bahkan pantai timur Afrika di Somalia, Kenya, dan Tanzania. Tahun 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR di lepas pantai Nias dan menewaskan 1.300 orang. Tahun 2006, gempa dengan kekuatan 7,7 SR mengguncang dasar Samudra Hindia, 200 km selatan Pangandaran, memicu gelombang tinggi hingga 6 meter di Pantai Cimerak dan sekitar 800 orang dilaporkan hilang (sumber : tempointeraktif.com). Itu pun belum dihitung gempa yang terjadi di Jogja, Tasikmalaya, Jambi dan sebagainya.

Siapa yang dapat mengira sebelumnya? Pada faktanya, setelah Indonesia diguncang gempa dan tsunami hebat yang terjadi di Aceh dan Sumatra tahun 2004 silam baru para ahli berbondong-bondong mempelajari lika-liku wilayah Indonesia yang rawan terjadi gempa dan juga berpotensi menimbulkan tsunami. Meski menjadi “langganan” gempa, toh tetap saja para ahli tak mampu memberikan prediksi terpercaya kapan dan dimana gempa akan mengancam. Mereka berargumen bahwa prediksi yang terpercaya membutuhkan prasyarat, yakni berupa semacam sinyal di bumi yang mengindikasikan gempa bumi bakal terjadi. Sinyal itu harus terjadi hanya sebelum terjadinya gempa bumi besar dan harus terjadi sebelum semua gempa besar terjadi. Sayangnya, sampai saat ini, para seismolog gagal menemukan prasyarat-prasyarat itu.

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” [QS. Qaaf [50] : 36]

Sehebat apapun manusia menciptakan sesuatu jika Allah sudah berkehendak terjadi maka terjadilah. Tidak ada suatu makhluk pun yang dapat menolak kehendak-Nya. Tetapi ironisnya, kebanyakan manusia saat ia bisa menciptakan sesuatu yang mutakhir justru menjadikan dirinya merasa paling hebat hingga timbul kecongkakan dalam hatinya, bahkan sampai mengkufuri keberadaan Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang demikian.

Maka, bencana yang terus saja melanda baik di negeri kita sendiri dan juga negara-negara lain ini kita jadikan sebagai pelajaran bagi kita bersama. Agar ke depan semakin baik lagi, dan makin mantap berjuang di jalan yang diridhai-Nya. [ntz]

Minggu, 21 November 2010

Saat Sebagian Raga Menjadi Tak Ada

Saudaraku... bagaimana jika kita kehilangan salah satu bagian dari raga kita? Apa yang kita rasa, saat kita kehilangan dua kaki kita, tangan, mata, dan bagian raga yang lain?

Kita yang dulu berjalan tegap penuh percaya diri, sigap melangkah, kini takkan bisa kita lakukan lagi. Kita yang tadinya bisa melihat warna-warni dari dunia, kini hanya kegelapan yang bisa kita tangkap oleh dua mata kita. Kita yang dulunya bisa menyantap makanan dengan tangan kita, kini mulut kitalah yang langsung kita gunakan untuk makan.

Seperti halnya seorang ibu yang kehilangan kaki kanannya. Seorang laki-laki muda yang belum genap berusia 20 tahun yang kehilangan dua kakinya. Seorang pria berusia 30-an tahun yang kehilangan satu matanya. Seorang ibu muda yang juga kehilangan dua matanya. Karena... sebuah kecelakaan!

Coba bayangkan saudaraku! Andaikan kita yang menjadi mereka. Akankah kita tabah menghadapi musibah seperti ini? Atau... justru kita malah semakin frustasi menatap masa depan kita?

Tetapi tidak saudaraku. Sejatinya ini bukan musibah seperti yang kita bayangkan. Ini justru merupakan hadiah yang diberikan oleh-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Nya Yang Maha Besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Allah mencintai pada suatu kaum, maka Allah memberi cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa bershabar, dia mendapatkan (pahala) keshabaran itu. Dan barangsiapa berkeluh kesah, ia mendapatkan keluh kesah itu”. [HR. Ahmad]

Sedang Allah berfirman, "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena keshabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," [QS. Al-Furqaan : 75]

Kita mungkin tak bisa berjalan seperti dulu lagi. Kita mungkin tak bisa melihat seperti dulu lagi. Tetapi, bukankah dunia hanya sementara? Allah hanya menguji kita untuk waktu yang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan waktu yang ada di akhirat kelak.

Dan alangkah beruntungnya mereka yang senantiasa menetapi kesabaran dalam menerima segala ujian dari-Nya. Dan bersyukurlah, jika sampai detik ini, kita masih dianugrahi bagian raga yang utuh nun sempurna oleh-Nya. Syukurilah akan nikmat sehat yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Mensyukuri dengan memanfaatkan waktu ini pada jalan yang diridhai-Nya.

*Didedikasikan untuk mereka, yang hanya saya tahu lewat cerita... Seorang ibu di Gunung Kidul beserta menantunya yang juga menjadi korban, seorang ibu di Solo, dan seorang ikhwan di Pacitan dan di RS Kustati, semoga Allah memberi kesabaran untuk mereka...

Selasa, 09 November 2010

Jangan Sepelekan Sesuatu yang (Kita Nyana) "Kecil"

Satu ketika seseorang berkata yang kurang lebihnya adalah seperti ini,"Satu orang asal berkualitas itu lebih baik ketimbang banyak orang tapi tidak berkualitas."

Kawan, marilah kita kaji lebih mendalam lagi dengan hati yang legowo. Saya mengibaratkan satu orang dengan satu lidi. Lidi tersebut memang bagus dari segi tampilan, panjang pula dan tanpa ada --kalau dari kota asal saya sih dikenal dengan istilah ini (tapi, apa iya ya, kata ini dari kota asal saya? :D)-- krekepen (ini kalau bahasa Indonesianya apaan ya? Ya pokoknya mulus dah, maaf kalau keliru :D). Tetapi, jika ini hanya satu lidi, mampukah ia digunakan untuk menyapu?

Jelas, tidak bisa bukan? Mending pakai tangan, ketimbang pakai lidi yang hanya satu itu. Nah, itulah ibaratnya.

Bagaimanapun, satu orang meskipun katanya berkualitas tinggi sekalipun, takkan mampu melaluinya sendiri. Maka, jangan sepelekan mereka yang katanya tidak berkualitas itu.

Pernah beberapa kali, saya mengajak orang untuk berdiskusi untuk bahasan tertentu. Awalnya saya hampir menyangsikannya, karena memang bahasan yang didiskusikan berbeda dengan bidang yang ditekuninya.

Tetapi apa yang saya petik dari ini, kawan? Saya justru mendapat ide yang tidak biasa darinya, dari seseorang yang hampir saya berpikir, kemungkinan besar ia tidak bisa memberi kontribusi besar dalam diskusi ini (yah, kasarnya sih hanya sebatas formalitas ikut-ikutan saja).

Maka, jangan menyepelekan pada sesuatu yang mulanya kita anggap enteng, remeh, kecil dsb. Bahkan, seorang cleaning servise pun, jika ia tidak ada, akan menghambat kerja kita juga. Lantai, kaca, dsb yang belum bersih, membuat semangat kerja kita akan luntur juga. Demikian pula dengan sosok-sosok lainnya yang kita berpikir, kurang memberi kontribusi besar.

Karena semua mempunyai tugas masing-masing yang kesemua itu sangat menentukan dalam mencapai satu tujuan yang sama. Lidi yang banyak (meski ada bagian yang krekepen sekalipun) akan mampu membuang sampah-sampah yang bertebaran. Sementara satu lidi yang super kualitas tinggi tersebut, mampukah ia?

Ingatlah, kita semua sama di hadapan-Nya, kaya atau miskin, tampan atau cantik, berkelas atau yang tinggal kelas atau bahkan tidak dapat kelas. Karena Allah berfirman, "...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu..." [QS Al Hujuraat 13]

Hargailah kerja keras mereka meskipun mereka hanya menghasilkan sesuatu yang mulanya kita anggap enteng, remeh, kecil nun mungil itu. Allah SWT saja menghargai amal kebaikan hamba-Nya meski hanya seberat zarrah. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." [QS Al Zalzalah 7]

Bagaimana dengan kita, pantaskah kita menyepelekan mereka, sementara Allah menghargai amal kebaikan hamba-Nya meski hanya seberat zarrah? Sedang Allah berfirman, "...Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri," [QS.Al Hadiid 23]

Dan jika kita memang mendapati kekurangan mereka dalam menyelesaikan tugas tertentu, maka sudah menjadi kewajiban kita membimbing mereka agar lebih baik lagi. Bukan malah mencerca, tanpa memberikan solusi dan bimbingan.

Semoga bermanfaat. :)

*Tulisan ini sengaja dibuat merakyat, karena kita memang rakyat :)

Jumat, 29 Oktober 2010

Yuk, Hormati Kedua Orang Tua Kita!

Dalam satu kesempatan, penulis sempat menangkap pembicaraan dua orang ibu yang berkata, “Cah saiki karo cah ndek biyen ki bedho, ngidap-ngidapke tenan (anak sekarang dengan anak yang dulu itu beda, menjengkelkan sekali –kurang lebih maksudnya seperti itu- :) ). Penulis juga tidak tahu pasti, bagaimana sebetulnya anak jaman dulu itu, kecuali hanya mengetahuinya lewat pelajaran sejarah saja :).

Tetapi jika kita coba melihat lebih jauh lagi, bagaimana sikap dan perilaku anak jaman sekarang memang sangat memprihatinkan. Entah ini bisa mewakili anak jaman sekarang atau tidak, tetapi seringkali penulis tak sengaja mendapati akan kurangnya anak yang menghormati pada kedua orang tua mereka. Misalnya, sopan santun dalam berbicara kepada kedua orang tua.

Ini dia yang membuat saya pribadi ngelus dada. Ketika ada anak yang baru lulus SMA tahun kemarin berkata kepada ayahnya, menggunakan sapaan “kowe” –berarti kamu- ketika menyapa. Tentu dalam konteks bahasa Jawa, kata sapaan tersebut tidak pantas diucapkan kepada yang lebih tua, apalagi itu orang tua yang telah melahirkannya.

Ketika penulis menegurnya, ia malah beralasan, katanya sungkan bila mengubah gaya bicaranya karena sudah jadi kebiasaan.

Lain cerita lagi ketika ada seorang anak SMP yang baru duduk kelas 8 meminta dibelikan sepeda motor. Meskipun kedua orang tuanya bekerja sebagai kuli serabutan, namun karena sang anak memaksa, akhirnya mereka membelikan juga walaupun dengan kredit. Setelah dibelikan, sang ayah berpesan kepada sang anak, untuk tidak memodifikasi motor yang telah dibeli dengan susah payah itu. Tetapi apa yang terjadi, baru juga diwanti-wanti, e... malah si anak tersebut justru melakukan yang dilarang oleh ayahnya.

Ini hanya sebagian contoh saja. Di luar itu, masih banyak cerita lain yang tak kalah ngidap-ngidapke tenan :). Yah, memang dua contoh diatas usianya masih relatif belia. Namun, bukan lantas karena belia ini dimaklumi. Karena mendidik anak tidak mungkin dimulai ketika mereka sudah besar, bukan?

Jelas, sikap mereka yang demikian tidak mungkin disenangi oleh para orang tua, siapapun dia. Semua orang tua pastilah akan senang jika dihormati. Mereka akan bangga jika mempunyai anak yang berbakti kepada mereka. Lain halnya dengan sikap diatas, tentu akan membuat susah mereka.

Dari Ali Karramallaahu wajhah, ia berkata : Rasulullah Saw telah bersabda, “Barangsiapa yang membuat susah kedua orang tuanya maka sungguh ia telah durhaka kepadanya.” [Ibnul Khotib]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw berbaiat untuk berhijrah, sedang ia meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan menangis. Maka Nabi Saw bersabda, “Kembalilah kepada keduanya, dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana kamu telah membuat keduanya menangis. [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad hal 27]

Sedang Allah juga berfirman, “..dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS Al Israa’ 23]

Maka, saudaraku... mari, kita bersama menghormati kedua orang tua kita. Jangan harap, kita akan dihormati oleh anak-anak kita, sedang kita sendiri tidak menghormati kedua orang tua kita.

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Berbaktilah kepada ibu bapakmu maka anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Jagalah kehormatan dirimu maka istri-istrimu pun akan menjaga kehormatan dirinya.” [HR Thabrani dengan isnad yang hasan]

Semoga bermanfaat.

*Referensi dari brosur kajian Ahad Pagi, 2 September 2001 “Halal Haram dalam Islam ke-50” dan brosur kajian Ahad Pagi, 23 September 2001 “Halal Haram dalam Islam ke 51”

Rabu, 15 September 2010

"Tak Berharap Berumur Panjang"

Yah, inilah yang diucap oleh seseorang, di belakang saya, ketika melihat seorang nenek renta yang tak lagi energic seperti masa produktifnya dulu. Tak jauh berbeda dengannya, sayapun berpikiran sama.

Bayangkan, untuk menapak beberapa meter selepas turun dari mobil, ia sangat sempoyongan. Dengan dipapah oleh sang sopir, mendapat bantuan dari menantunya dan sedikit bantuan dari saya, ia berjalan selangkah demi selangkah, pelan dan sangat pelan. Seakan ada batu besar yang tengah membebani pundaknya. Saking beratnya, nampak jelas keletihan yang sangat dari keriput wajahnya.

Saudaraku, diberi umur panjang adalah harapan semua orang. Dalam firman-Nya, Allah bahkan berfirman, betapa orang yang mencintai dunia mengkhayal untuk diberi umur hingga seribu tahun lagi. "Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." [QS Al Baqarah 96]

Perlu kita ketahui saudaraku, nenek renta yang saya ceritakan tadi baru berumur sekitar 90-an tahun. Baru menginjak umur segitu saja, kekuatannya seolah sudah habis. Dan tentu, ia tak bisa lagi seenergic ketika masa mudanya dulu. Lalu, bagaimana jika menginginkan hidup seribu tahun lagi?

Ingatlah, dunia ini hanyalah sementara. Lama-lama, tanpa kita sadari, seiring berjalannya waktu di dunia ini, kekuatan raga kita perlahan akan menipis. Tak selamanya akan terus seperti ini.
Allah berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..." [QS Ali Imran 185]

Kita pun, satu saat nanti, entah kapan, akan menyusul mereka ke alam baka. Karena sesungguhnya tak ada yang abadi di dunia ini. Jangan sampai umur panjang yang diberikan kepada kita justru malah melenakan kita dari-Nya, terlena oleh nikmat semu duniawi, terlena oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di muka bumi ini.

"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." [QS Ali Imran 196-197]

Untuk itulah saudaraku, mari kita bersama memanfaatkan sisa umur yang diberi oleh-Nya ini ke jalan yang diridhai-Nya. Mari kita bersama menapak di jalan dakwah. Memulainya dari diri kita sendiri, keluarga, kerabat sekitar dan akhirnya meluas, lebih luas lagi. Karena di jalan dakwahlah, kita melangkah!

Sabtu, 22 Mei 2010

Dilema antara dua kata, lembah dan gunung!


Gunung, ia memang elok. Kita melihatnya demikian bukan? Dari posisi kita yang rendah, kita bisa dengan mudah melihatnya, takjub. Kita pun berkhayal asal, “Betapa menyenangkannya menjadi sebuah gunung. Punya ketinggian, kokoh, besar sekaligus jadi pusat perhatian oleh berjuta pasang orang.”

Tetapi tidak, ada sesuatu yang riskan andaikan kita sebuah gunung. Lihat!
Saat kita diam, lembah-lembah yang berada di bawah kontan menuduh kita angkuh! Kita disebut sebagai orang yang congkak, sombong lagi merendahkan para lembah karena ketinggian dan kekokohan kita.

Padahal, kita diam, tak menyapa, karena kita takut, kita salah menyapa. Kita juga takut, sapaan kita justru akan mengganggu mereka. Seperti ketika kita akan menyapa mereka dengan muntahan abu vulkanik. Oh, tragis! Sapaan kita justru diartikan sebagai sebuah kemudharatan. Bahkan, terang-terangan kita diberi status, “Waspada, Siaga hingga Awas! (untuk dijauhi)” Kitapun menjadi bahan pergunjingan di media massa, tiada henti.

Merupakan kesalahankah jika sapaan kita berupa muntahan abu vulkanik? Padahal hanya inilah, kita bisa menyapa mereka, dengan mengandung manfaat di kemudian hari.

Kita mencoba mencari cara lain untuk menyapa mereka. Kita berniat untuk menyapa lembah dengan longsoran tanah dari bagian kita. Oh, malang! Sapaan kita justru menjadikan bencana bagi mereka. Padahal, kita hanya berniat untuk menyatu dengan mereka.

Bagaimana ini? Padahal kita selalu berpikir, kita sama dengan mereka, sama-sama sebuah lembah. Hanya pandangan mereka yang melihat, seolah kita adalah gunung.

Oh, yah! Kita harus melakukan penyamaran! Bagaimana jika kita meletakkan kata yang biasa mengiringi gunung? Yah, kita biasa menaiki gunung. Bagaimana jika kata “naek” diketemukan dengan “lembah”, seperti halnya penyamaran yang akan kita lakukan?

Oh, tidak! Para lembah dan gunung salah mengartikan. Mereka langsung protes habis-habisan. Bahkan, kita disebut sebagai sosok yang aneh, dungu (karena pernyanaan mereka yang menyebut kita tak tahu jika lembah hanya bisa dituruni) atau bahkan kita terlalu mengada-ada (bermimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan).

Padahal, tidak! Kita tak bermaksud demikian. Kita juga tak pernah bermimpi untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Menaiki lembah sungguh tidak mungkin. Meski sebagian dari mereka, menaiki lembah itu adalah mungkin (jika sebelumnya menuruni lembah, lalu kita naik ke atas lagi).

Tidak! Apapun yang terjadi, lembah yang curam tak mungkin kita naiki. Meski kita harus menaiki di bagian yang masih disebut lembah, ini bukan lantas kita menaiki lembah. Kita hanya menaiki sebuah tempat yang lebih tinggi.

Lalu apa sebetulnya maksud kita? Ini tak lain karena dilema dua kata diatas, lembah dan gunung! Inilah yang menjadi masalah besar dari persangkaan para lembah dan gunung yang salah menyana. Jika kita mengenal dua kata yang bernada dan berhuruf sama, namun berarti lain, inilah yang sesungguhnya kita usung. Bernada dan (mungkin) berhuruf sama, tapi berbeda makna.

Semoga dari kisah kiasan ini, akan menjadikan kita lebih bijak lagi, kawan. Kisah kiasan diatas sudah pasti banyak kita jumpai di dunia nyata. Inilah kebanyakan manusia, termasuk saya, dan kalian semua, banyak ditipu oleh ‘penglihatan sepintas’ tanpa meninjaunya. Semoga bermanfaat.

*SEJUMPUT DARI SEGUDANG NAMA (YANG KATANYA) ANEH INI. :)

Share

Sabtu, 01 Mei 2010

Ujian Kesabaran, Ibarat Menanti Hujan Reda


Di saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga puluh jam lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian kesabaran itu.

Banyak orang mengatakan, kesabaran ada batasnya. Bila ujian kesabaran diibaratkan dengan menanti hujan reda, apakah orang akan menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang tengah menerpa bumi? Sedang hujan hanyalah merupakan makhluk ‘pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan rintihan kekesalan orang. Ia mengguyur ke bumi atas perintah-Nya. Tak peduli orang mengeluh kesal kepadanya, atau bahkan memaki akan kedatangannya yang tak kunjung pergi.

Sayangnya, hujan terlalu biasa untuk dikeluhkan orang. Di awal kedatangannya, orang akan nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah menunjukkan betapa awal ujian kesabaran itu sudah terpatahkan oleh rasa tidak bersyukurnya akan turunnya nikmat hujan.

Belum lagi di benaknya masih membayangkan bagaimana nasib jemuran bajunya di rumah. Sudah pasti akan basah kuyub, setelah sebelumnya tak sempat ‘diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana nasib kendaraannya yang berkilau lantaran baru dicuci kemarin sore, lagi-lagi harus terkena cipratan air hujan yang bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah.

Ini baru contoh sederhana, belum contoh-contoh lain yang amat menguji kesabaran. Misalnya ketika urusan duniawi yang menurutnya sangat urgen untuk segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda lantaran hujan.

Di saat air hujan semakin deras mengguyur, tak kunjung reda, saat inilah kesabaran orang benar-benar berada di titik kulminasi. Terbayang di benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan duniawinya banyak yang terbengkalai. Saat itu juga, emosi kian tak terbendung. Umpatan-umpatan kekesalan pun keluar dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan, seolah hujan adalah makhluk serupa dengannya.

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”(QS Al A’raaf 57)

Hujan diturunkan sebagai pembawa berita gembira, namun yang terjadi justru malah sebaliknya. Orang malah berkeluh kesah dengan hadirnya hujan. Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya hujan tengah menghambat urusan duniawinya. Tidak tahukah orang, untuk apa hujan diturunkan?

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS An-Nahl 65)

Bayangkan jika hujan tidak diturunkan ke bumi, tidak akan mungkin ada kehidupan di sini. Bumi akan mengering, dan semua makhluk hidup akan mati. Dalam ayat lain Allah juga berfirman.

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10)

Hujan yang membawa berkah, menghidupkan serta menyuburkan tanaman-tanaman yang hijau lagi banyak buahnya. Inilah ibarat ujian kesabaran itu, layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran yang teramat berat, terlebih ketika harus merelakan hal-hal yang menyangkut duniawi.

Hujan yang dinyana sebagai penghambat pada urusan duniawi, sesungguhnya merupakan berkah dari-Nya. Kehadirannya akan menghijaukan tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan mata air yang jernih yang sangat bermanfaat bagi semua makhluk yang hidup di bumi ini.

Demikian halnya dengan ujian kesabaran itu. Meski dinyana sebagai sesuatu yang pahit dirasa, atau bahkan berat didaki, namun sesungguhnya Allah akan menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran 142)

Ujian dari Allah tak hanya berupa kesedihan, tapi juga mencakup kebahagiaan. Sayangnya, ketika orang diuji dengan kebahagiaan, orang lupa jika itu hanyalah sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah berpikir bahwa itu adalah keberuntungan. Padahal, keberuntungan di dunia ini hanyalah merupakan tipuan.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadiid 23)

Seperti halnya ketika menanti hujan reda. Meski hujan mengguyur deras, tak kunjung reda, hingga menyebabkan banjir, tanah longsor ataupun bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa tiap-tiap orang yang beriman. Bagaimanapun hujan adalah berkah dari-Nya, meski kehadirannya terkadang mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para hamba-Nya agar bersyukur.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisaa’ 147)

Maka bersabarlah, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Ujian kesabaran itu ibarat menanti hujan reda. Terasa lama untuk dinanti redanya, hingga terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak memberi mudharat pada urusan duniawi.
Namun, tidak bagi orang-orang yang bersabar. Ia akan memaknai hujan sebagai berkah dari-Nya, berapapun lamanya dan banyaknya curah hujan yang diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia akan tetap bersabar, karena di balik ujian pastilah mengandung hikmah.

Dan semestinyalah, orang-orang yang beriman akan mengambil hikmah di balik cobaan itu. Ia akan senantiasa bersabar dan bersyukur di kala sedih ataupun bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan ujian dari-Nya, agar nyatalah siapa sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang terpilih itu. [ntz]

Share