.::. Assalamu'alaikum yaa akhii, yaa ukhtii... Syukron atas kunjungannya...::. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran 102)" .::. "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." QS Shaaff 10-11) .::. "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (Qs Al Baqarah 212) .::.

Sabtu, 01 Mei 2010

Ujian Kesabaran, Ibarat Menanti Hujan Reda


Di saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga puluh jam lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian kesabaran itu.

Banyak orang mengatakan, kesabaran ada batasnya. Bila ujian kesabaran diibaratkan dengan menanti hujan reda, apakah orang akan menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang tengah menerpa bumi? Sedang hujan hanyalah merupakan makhluk ‘pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan rintihan kekesalan orang. Ia mengguyur ke bumi atas perintah-Nya. Tak peduli orang mengeluh kesal kepadanya, atau bahkan memaki akan kedatangannya yang tak kunjung pergi.

Sayangnya, hujan terlalu biasa untuk dikeluhkan orang. Di awal kedatangannya, orang akan nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah menunjukkan betapa awal ujian kesabaran itu sudah terpatahkan oleh rasa tidak bersyukurnya akan turunnya nikmat hujan.

Belum lagi di benaknya masih membayangkan bagaimana nasib jemuran bajunya di rumah. Sudah pasti akan basah kuyub, setelah sebelumnya tak sempat ‘diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana nasib kendaraannya yang berkilau lantaran baru dicuci kemarin sore, lagi-lagi harus terkena cipratan air hujan yang bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah.

Ini baru contoh sederhana, belum contoh-contoh lain yang amat menguji kesabaran. Misalnya ketika urusan duniawi yang menurutnya sangat urgen untuk segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda lantaran hujan.

Di saat air hujan semakin deras mengguyur, tak kunjung reda, saat inilah kesabaran orang benar-benar berada di titik kulminasi. Terbayang di benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan duniawinya banyak yang terbengkalai. Saat itu juga, emosi kian tak terbendung. Umpatan-umpatan kekesalan pun keluar dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan, seolah hujan adalah makhluk serupa dengannya.

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”(QS Al A’raaf 57)

Hujan diturunkan sebagai pembawa berita gembira, namun yang terjadi justru malah sebaliknya. Orang malah berkeluh kesah dengan hadirnya hujan. Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya hujan tengah menghambat urusan duniawinya. Tidak tahukah orang, untuk apa hujan diturunkan?

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS An-Nahl 65)

Bayangkan jika hujan tidak diturunkan ke bumi, tidak akan mungkin ada kehidupan di sini. Bumi akan mengering, dan semua makhluk hidup akan mati. Dalam ayat lain Allah juga berfirman.

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10)

Hujan yang membawa berkah, menghidupkan serta menyuburkan tanaman-tanaman yang hijau lagi banyak buahnya. Inilah ibarat ujian kesabaran itu, layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran yang teramat berat, terlebih ketika harus merelakan hal-hal yang menyangkut duniawi.

Hujan yang dinyana sebagai penghambat pada urusan duniawi, sesungguhnya merupakan berkah dari-Nya. Kehadirannya akan menghijaukan tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan mata air yang jernih yang sangat bermanfaat bagi semua makhluk yang hidup di bumi ini.

Demikian halnya dengan ujian kesabaran itu. Meski dinyana sebagai sesuatu yang pahit dirasa, atau bahkan berat didaki, namun sesungguhnya Allah akan menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran 142)

Ujian dari Allah tak hanya berupa kesedihan, tapi juga mencakup kebahagiaan. Sayangnya, ketika orang diuji dengan kebahagiaan, orang lupa jika itu hanyalah sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah berpikir bahwa itu adalah keberuntungan. Padahal, keberuntungan di dunia ini hanyalah merupakan tipuan.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadiid 23)

Seperti halnya ketika menanti hujan reda. Meski hujan mengguyur deras, tak kunjung reda, hingga menyebabkan banjir, tanah longsor ataupun bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa tiap-tiap orang yang beriman. Bagaimanapun hujan adalah berkah dari-Nya, meski kehadirannya terkadang mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para hamba-Nya agar bersyukur.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisaa’ 147)

Maka bersabarlah, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Ujian kesabaran itu ibarat menanti hujan reda. Terasa lama untuk dinanti redanya, hingga terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak memberi mudharat pada urusan duniawi.
Namun, tidak bagi orang-orang yang bersabar. Ia akan memaknai hujan sebagai berkah dari-Nya, berapapun lamanya dan banyaknya curah hujan yang diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia akan tetap bersabar, karena di balik ujian pastilah mengandung hikmah.

Dan semestinyalah, orang-orang yang beriman akan mengambil hikmah di balik cobaan itu. Ia akan senantiasa bersabar dan bersyukur di kala sedih ataupun bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan ujian dari-Nya, agar nyatalah siapa sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang terpilih itu. [ntz]

Share

Kamis, 25 Februari 2010

Muslimah-Muslimah Pendakwah Agama Allah, Adakah Sosok Itu Kini?


Di masa Rasulullah Saw, sosok-sosok wanita muslimah yang berjuang gigih mendakwahkan agama Allah banyak dijumpai. Bahkan, sejarah Islam mencatat bahwa sosok yang pertama kali menyambut dakwah Islam adalah seorang wanita, yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Saw. Selain Khadijah Ra masih banyak wanita-wanita Islam yang namanya abadi. Di antara mereka ada Aisyah Ra, Ummu Sulaim, Nusaibah, Sumayyah, Asma binti Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Fathimah binti Khatab dan masih banyak wanita lain yang memegang peranan penting dalam perintisan dakwah Rasulullah Saw.

Di masa itu, peran wanita muslimah dalam jihad Rasulullah Saw amat signifikan. Meski peran mereka hanya di belakang layar, namun perjuangan mereka sangat menentukan dalam syiar Islam. Banyak tokoh-tokoh menjadi penting dan terkenal lantaran ditopang oleh peran wanita.

Lalu, jika konteksnya dialihkan ke masa sekarang, adakah sosok-sosok seperti itu kini? Yang jelas, wanita-wanita yang memegang teguh agamanya serta gigih memperjuangkan dakwah amat sangat jarang didapati di masa sekarang ini. Kenyataan justru berkata lain. Banyak dari wanita yang sebetulnya mengimani Islam, namun justru sikap dan tingkah lakunya tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslimah. Bahkan, sangat mirip dengan mereka, para wanita jahil.

Banyak juga dari wanita yang mengaku beragama Islam, namun justru enggan mengenakan busana yang mencitrakan ia sebagai seorang muslimah. Sebaliknya, mereka malah mengenakan busana yang mempertontonkan auratnya. Ironisnya, itu sudah menjadi kebanggaan bagi mereka, seolah dengan busana yang serba minim itu akan meningkatkan pamornya di mata kaum Adam.

Atau, banyak pula para muslimah yang sudah terbuka hati menutup auratnya, namun masih perhitungan dalam hal ukuran, sehingga masih memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya. Yang lebih memprihatinkan adalah ketika banyak dari para muslimah yang tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, seperti halnya busana muslimah yang telah dikenakannya. Bahkan, citra muslimah justru terlunturkan oleh akhlaqnya yang bertentangan dengan Islam.

Ini baru dilihat dari pribadi para muslimah sendiri, belum dalam hal perjuangannya menyuarakan agama Allah. Yang menjadi pertanyaan, mendakwahi dirinya sendiri saja belum sepenuhnya dijalankan, bagaimana bisa mendakwahi orang lain? Jelas, potret para wanita muslimah sekarang ini tak bisa disamakan dengan para wanita muslimah di jaman Rasulullah Saw dulu. Mereka dengan gigih dan berani menyuarakan Islam. Mendukung perjuangan suaminya dalam menegakkan syariat Islam. Seperti halnya semangat juang para suaminya, mereka juga tak takut akan hantaman apapun, meski nyawa taruhannya.

Bagaimana dengan sekarang? Jangankan berani mempertaruhkan nyawa, hanya mendapat cercaan yang tidak mengenakan saja sudah langsung patah arang. Apalagi bila harus dikucilkan, bisa-bisa ia malah berbalik arah dari jalan yang dirahmati Allah.

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl 125)

Kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah adalah mendakwahkan agama Allah, menyeru manusia kepada jalan yang diridhai Allah, menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mengerjakan yang mungkar. Dalam berdakwah, kita dituntunkan untuk menggunakan cara yang baik, tidak dengan cara kekerasan. Menyeru dengan cara yang hikmah, dimana hikmah disini diartikan sebagai perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Biarpun dalam kenyataannya orang yang kita dakwahi masih tetap dalam kesesatan, maka tidak ada tanggung jawab bagi kita untuk memikul dosa mereka, karena kewajiban kita hanyalah berdakwah (lihat QS Al-An’am 69). Sayangnya, bagi kebanyakan orang, khususnya para muslimah sendiri, akan menjadi gengsi ketika ia harus menegakkan syariat Islam. Apalagi ketika ia dianggap asing di lingkungannya. Bagi muslimah yang usianya relatif muda, tentu menjadi taruhan besar ketika ia harus dijauhi oleh teman-temannya, karena ketidakbiasaannya mempertahankan prinsip agama.

Pendukung yang Menentukan

Peran wanita dalam berdakwah, tentu tak sepenuhnya sama dengan laki-laki. Bagaimanapun, laki-laki diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi wanita sebagaimana Allah jelaskan itu dalam QS An-Nisaa’ 34, ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)...”

Pun demikian, para wanita muslimah tetap berperan penting dalam menyuarakan agama Allah, karena kewajiban berdakwah tak hanya dibebankan kepada kaum laki-laki muslim saja. Hanya saja, peran para wanita muslimah ini adalah sebagai pendukung di belakang layar, namun menentukan dalam perjuangan dakwah.

Jika di jaman Rasulullah Saw, ketika para suami berjihad di medan perang, maka peran istri adalah mendukung sepenuhnya suami mereka dalam menegakkan syariat Islam. Menjadi kebahagian yang tiada tara ketika mendapati suami mereka mati dalam keadaan syahid.

Demikian halnya dengan masa sekarang, seorang istri yang shalihah akan sepenuhnya mendukung suaminya dalam menyuarakan agama Allah. Tidak ada rasa berat di hati ketika waktu untuk keluarganya menjadi terkurangi lantaran suaminya sibuk berdakwah atau sibuk dalam aktifitas lain yang ditunaikan lantaran mengharap keridhaan dari Allah. Sebagai istri, ia harus serta merta menjaga diri ketika suaminya tidak ada di rumah. Ia juga harus berperan penting dalam mendidik putra-putrinya agar kelak menjadi anak yang shalih dan shalihah. Jika diijinkan oleh suami, istri juga bisa berdakwah kepada para wanita muslimah lain, melalui kajian khusus muslimah ataupun dalam forum lainnya.

Ini jika konteksnya sudah berkeluarga, bagi yang belum berkeluarga, para wanita muslimah tetap bisa ambil peran dalam mendukung perjuangan dakwah Islam. Misalnya berdakwah di lingkungan sekitar seperti di sekolah, kampus, tempat kerja atau lingkungan sekitar lainnya. Tak hanya itu, para wanita muslimah juga bisa berdakwah dengan memanfaatkan bidang-bidang yang dikuasainya.

Kehadiran internet juga bisa dimanfaatkan untuk berdakwah. Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang banyak dicari lantaran minim karakter bisa disulap dengan kutipan-kutipan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits Rasulullah ataupun untaian kata yang sarat akan hikmah. Yang jelas, ada banyak cara untuk menyuarakan agama Allah.
Pun begitu, mendakwahi pada pribadi sendiri adalah hal yang paling utama dilakukan. Seorang wanita muslimah haruslah mencitrakan dirinya sebagai hamba-Nya yang tetap berpegang teguh pada agama Allah.

Citrakan itu lewat busana muslimah yang dikenakan sesuai tuntunan dan sekaligus ditunjang pula dengan akhlaqul karimah. Jangan sampai citra sebagai seorang wanita muslimah ini justru menjadikan fitnah lantaran sikap dan tingkah lakunya yang menyimpang dari ajaran-Nya. Ini dilakukan semata-mata dalam rangka memperjuangkan agama Allah.

Tak perlu takut jika harus mendapat cercaan dari orang, atau bila harus dijauhi oleh khalayak orang, karena Allah selalu membersamai dalam tiap langkah hamba-Nya.
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad 7)

Allah tidak mungkin memungkiri janji-Nya. Allah tidak akan membiarkan para hamba-Nya terlunta karena dikucilkan atau bahkan diusir sekalipun. Jika harus dikucilkan atau diusir, Allah pasti akan mempertemukannya dengan saudara-saudara semuslim yang mempunyai tekad yang sama, hidup bersama dalam jamaah. Semangat berjuang, wahai para wanita muslimah, dan jadilah seorang pendukung dakwah di belakang layar yang menentukan! (ntz)

Jumat, 22 Januari 2010

Salah Kaprahnya Insan Dunia Memaknai Cinta


Berbicara soal cinta, pasti sangat erat kaitannya dengan dua insan dari turunan Adam dan Hawa tengah dihantam oleh perasaan yang menggelora. Tidak heran, para pujangga cinta terjebak dalam kungkungan panah asmara. Ada di antara mereka menjadikannya sebagai cinta sejati, cinta untuk pertama dan terakhir kalinya, hingga sosoknya seolah tak bisa tergantikan oleh siapapun dan sampai kapanpun. Wow, sangat ironis bukan?

Atas nama cinta, tak sedikit para pujangga cinta rela mengorbankan dirinya untuk sang pujaan hati, bahkan sampai yang dilarang agama pun rela dilakukan. Tidak hanya itu, ketika yang dicinta telah tiada, ia bahkan rela bila harus mengakhiri hidup demi sang kekasih.

Yah, inilah fakta dari salah kaprahnya insan dunia memaknai cinta. Pacaran diartikan sebagai proses peleburan dari makna cinta. Tentu saja sebelum menapak ke taraf ‘jadian’ (pacaran) diawali dengan sebuah pendekatan. Mulanya mungkin hanya sekedar menebar pesona lewat sms, chatting, facebook, twitter dan lain sebagainya. Rupanya pepatah Jawa “witing tresno jalaran soko kulino” justru menjadikan dua insan turunan Adam dan Hawa itu semakin dihinggapi “virus merah jambu”.

Singkat cerita, cinta itupun diungkapkan dan dibalas suka cita oleh yang bersangkutan. Mereka pun telah ‘jadian’. Setelah ‘jadian’, berhentikah sebuah hubungan itu? Rasanya, ada yang kurang jika sebuah ungkapan perasaan itu hanya dilabuhkan pada taraf ‘jadian’ saja. Perlu dicatat, syaitan paling lihai menghasut manusia. Sudah sejak kali pertama perasaan cinta itu datang, syaitan sudah membelenggu manusia dalam tipu dayanya. Tentu saja, setelah ‘jadian’, syaitan akan kian membisiki manusia untuk melakukan yang lebih dari itu.

Dan first date pun dijadwalkan di malam Minggu. Dipilihlah tempat sepi di sebuah taman di pinggiran kota. Berhentikah sampai di sini? Jelas, tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Duduk berdekatan, tangan pun mulai beraksi. Digenggam erat tangan halus si pujaan hati. Perlu diketahui, ini hanya untuk kencan pertama, belum kencan kedua, ketiga atau bahkan kesekian kalinya. Bisa dipastikan, syaitan tidak akan mungkin membiarkan mereka melakukan itu-itu saja, melainkan lebih dan lebih. Inikah makna cinta itu bagi mereka, para pujangga cinta?

Bagaimana Islam Memandangnya?


Mencintai seseorang yang berbeda jenis itulah seyogyanya manusia. Sudah sewajarnya manusia yang berbeda jenis tertarik satu dengan yang lain. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita…” (QS Ali Imran 14)

Dalam QS An-Najm 45 Allah juga menjelaskan, “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”

Sebaliknya, Allah justru melarang manusia yang tidak merasakan cinta pada seseorang yang lawan jenis dan mengalihkan perasaan cinta itu pada kaum sejenis. Bahkan, dalam QS An-Naml 55 Allah menanyai mereka yang mencintai sejenis, “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)."

Dan Allah pun melaknat mereka sebagaimana dijelaskan pada ayat 58, “Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.”

Lalu, apa salahnya bila insan dunia mencintai seseorang yang dicintainya? Umumnya, perasaan cinta ditorehkan dalam sebuah ikatan hubungan yang bertentangan dengan syariat Islam. Menjalin hubungan dalam hal ini pacaran, sebagai tahap penjajagan hubungan sebelum menapak ke gerbang pernikahan.

Jelaslah, pacaran dalam Islam tidak dituntunkan. Dalam Al-Qur’an saja Allah memerintahkan kepada laki-laki dan wanita yang beriman untuk menahan pandangannya (lihat QS An-Nuur 30-31). Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan (bukan mahram) karena yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Abu Dawud)

Lalu, bagaimana bisa menggenggam tangan si pujaan hati sedang Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh ditusuknya kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR Thabrani)

Pacaran, meski belum sampai melakukan zina, adalah merupakan bentuk hubungan yang tidak halal yang bisa mendekatkan pada zina. Sedang Allah melarang para hamba-Nya mendekati zina.

”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Israa’ 32)

Mendekati zina saja sudah dilarang, apalagi sampai melakukan zina. Nau’udzubillah min dzalik. Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai seorang Muslim dan Muslimah dalam hal memaknai cinta?

Memilihnya karena Mencintai-Nya


Inilah sebuah kalimat yang Insya Allah akan menyelamatkan kita dari ancaman pergaulan yang menjerumuskan kita ke jurang neraka. Coba pahami kalimat berikut, ”Saya memilihnya karena saya mencintai-Nya.”

Pengungkapan kata ’memilih’ di sini dimaksudkan untuk menghindarkan kita dari jebakan salah kaprahnya memaknai cinta, karena sejatinya cinta hanyalah untuk-Nya semata. Kata ’memilih’ juga dimaksudkan untuk tidak melulu beralasan lantaran ada rasa cinta atau tidak cinta kepada seseorang ketika hendak membina mahligai rumah tangga. Dan dia kita pilih karena kita mencintai-Nya. Karena mencintai-Nya lah kita akan memilih pasangan hidup yang akan mendekatkan kita pada-Nya, bukan malah menjauhkan kita dari-Nya.

Penggalan kalimat ’saya memilihnya’ menunjukkan bahwa pengungkapan kalimat ini tidak semena-mena diungkapkan begitu saja. Kalimat ini dipilih karena untuk mengungkapkannya perlu seorang perantara. Lalu, ketika kita sudah berada dalam koridor yang dihalalkan, saat itu kita bisa mengungkapkannya dalam sebuah kalimat berikut ini, "Saya mencintaimu karena Allah."

Pengungkapan kata 'mencintaimu', karena kalimat ini sudah boleh diungkapkan secara langsung kepadanya. Dan kata 'cinta' disini hanya sebatas rasa kasih sayang yang tidak melebihi kadar kecintaan kita kepada-Nya. Kalimat ini diungkapkan semata-mata hanya mengharap Ridha dari-Nya.

Bukankah pengungkapan cinta yang demikian, itulah cinta yang indah? Cinta diungkapkan melalui jalan yang dihalalkan oleh-Nya, yakni pernikahan. Dan itu kita lakukan tak lain karena kita mencintai-Nya, cinta sebenar-benar cinta.

Lalu, bagaimana jika seseorang belum siap melewati gerbang pengungkapan cinta yang dihalalkan ini? Rasulullah Saw bersabda, "Wahai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu, hendaknya ia menikah karena sesungguhnya pernikahan itu akan menjaga kamu dari yang tidak halal dan barang siapa yang tidak mampu menikah hendaklah ia berpuasa, puasa itu menjadi benteng". (HR Muslim)

Rasulullah Saw juga bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan pada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Bagaimanapun menjaga dari sesuatu yang akan menyebabkan kita terjungkal ke neraka adalah hal yang harus kita lakukan. Jangan sampai gelora cinta menduakan Dia dengan si dia. Dia-lah tujuan kita hidup di dunia ini. Dia tidak akan pernah pergi meninggalkan kita sampai kapanpun. Sedang dia, apa dia akan selalu ada dalam kehidupan kita? (ntz)

*Sebuah inspirasi dari UNIC, Atas Nama Cinta

Kamis, 07 Januari 2010

Ketika Jilbab hanya Sebagai Asesoris


Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.


Na’udzubillahi min dzalik, jika contoh yang dilukiskan itu sudah menjadi gambaran dari muslimah-muslimah sekarang ini. Niatnya memang baik, menutup aurat yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah. Hanya saja, seringkali aurat yang ditutup tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dituntunkan oleh Islam.

Lihatlah, betapa banyak perempuan-perempuan yang mengaku beragama Islam, mengenakan jilbab, tetapi masih mempertontonkan bentuk lekuk tubuhnya. Salah bergerak sedikit, bagian tubuhnya bisa kelihatan. Mininya jilbab yang dikenakan seringkali malah membuat rambutnya yang panjang menjuntai keluar.

Kasus lain, ketika para ibu yang menghadiri walimahan mengenakan jilbab, namun lengan kebayanya masih transparan. Usai walimahan, biasanya mereka menanggalkan jilbab seolah-olah jilbab hanyalah sebagai asesoris untuk walimahan saja.

Sama halnya dengan para siswi atau mahasiswi yang sekolah atau kuliah di sekolah atau universitas Islam yang mewajibkan untuk mengenakan jilbab, mau tidak mau mereka harus mengenakan jilbab ketika berada di lingkungan sekolah atau kampus. Di luar itu, mereka dengan mudahnya tanpa beban membiarkan rambutnya tidak tertutup oleh jilbab.

Bahkan, ada juga sebagian mengenakan jilbab hanya karena merasa lebih cantik jika berjilbab. Rambutnya yang kurang bagus untuk diperlihatkan, terpaksa harus ditutupi. Jilbab modis yang dikenakan bisa mengalihkan penampilannya, hingga ia terlihat lebih mempesona dengan berjilbab.

Sesempit inikah makna jilbab bagi para wanita muslimah? Amat sangat disayangkan jika jilbab hanya diartikan sebagai asesoris semata.

Kewajiban Berjilbab


Perintah berjilbab terdapat dalam QS An Nuur 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”

Dari ayat tersebut nampak jelas, bahwa setiap wanita muslimah, dalam hal ini adalah semua wanita yang mengimani agama Islam, diwajibkan mengenakan jilbab. Konteks jilbab disini tidak hanya menutup rambutnya saja, melainkan menjulurkan jilbab hingga ke bagian dadanya. Sudah pasti, jilbab yang dikenakan haruslah lebar, tidak mini dan bisa menutupi bagian-bagian tubuh yang harus dijaga.

Pakaian yang dikenakan pun harus lapang, tidak menonjolkan bagian tubuhnya. Sebagaimana halnya firman Allah dalam QS Al Ahzab 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Arti ‘jilbab’ dalam ayat tersebut ialah jilbab yang sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala hingga dada. Ayat tersebut juga semakin memperjelas bahwa jilbab tak hanya digunakan untuk menutupi kepala saja (dalam artian rambut) namun juga digunakan untuk menutupi bagian tubuhnya, termasuk dada. Jika mengenakan jilbab yang mini dimana umumnya jilbab diikatkan ke leher, ini berarti tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam ayat ini.

Lalu bagaimana dengan jilbab modis? Umumnya, jilbab modis kebanyakan tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan dalam Al-Qur’an. Seringkali karena alasan modis, jilbab yang dikenakan justru meninggalkan unsur syar’i-nya. Jilbab dibuat sedemikian rupa sehingga bagian dada yang seharusnya tertutupi, justru malah kelihatan.

Bukan berarti Islam melarang para wanita muslimah untuk tampil modis. Tak ada salahnya modis, asalkan jilbab atau pakaian yang dikenakan sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah dalam QS An Nuur 31 dan QS Al Ahzab 59.

Batasan-batasan


Berjilbab tak hanya dilakukan ketika kita berada di luar rumah saja. Meskipun di dalam rumah, jika disana terdapat orang-orang yang bukan mahrom kita, maka wanita muslimah harus tetap mengenakan jilbabnya.

Soal batasan-batasan siapa saja yang memperbolehkan wanita muslimah membuka jilbabnya dijelaskan oleh Allah dalam QS An Nuur 31, “…Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sebagai Cermin Menjaga Hati

Terkadang orang berseloroh, “Berjilbab, kok gitu sih?” Kebanyakan masyarakat awam selalu berpikir bahwa wanita yang mengenakan jilbab diartikan sebagai orang yang kadar imannya kuat. Tidak heran jika dalam kenyataannya masih banyak didapati wanita-wanita berjilbab yang masih melakukan hal-hal yang melanggar agama, termasuk berzina (nau’dzubillah).

Fakta yang banyak terjadi di masa sekarang ini, banyak wanita yang sudah mengenakan jilbab, namun akhlaqnya tak berbeda jauh dengan mereka yang belum mengenakan jilbab, bahkan lebih parah dari mereka. Berjilbab, tapi masih hobi pacaran, berdua-duaan dengan sang kekasih entah di tempat yang sepi atau ramai. Bahkan, sudah bukan hal yang tabu lagi jika mereka saling berciuman di tempat umum. Astaghfirullah.

Pemandangan yang membuat kita tersayat ketika kita mendapati wanita-wanita berjilbab, dengan tanpa bebannya membonceng di atas sepeda motor yang ditunggangi oleh laki-laki yang bukan mahromnya. Jarak mereka begitu dekat, bahkan terlalu mepet dengan tubuh laki-laki itu. Padahal, ia sudah mengenakan jilbab.

Inilah yang membuat sebagian besar wanita-wanita yang beragama Islam enggan mengenakan jilbab. Mereka merasa belum pantas untuk menjilbabi hatinya. Mereka takut, jika mereka berjilbab nanti, mereka tidak bisa menjaga jilbabnya. Mereka lebih berpikir untuk tidak mengenakan jilbab karena takut tidak bisa menjaga akhlaqnya.

Padahal menutup aurat itu hukumnya adalah wajib bagi setiap wanita yang beriman. Siap atau tidak siap, setiap wanita muslimah diharuskan menutup auratnya. Jika merasa belum pantas menjilbabi hati, justru dengan jilbablah, kita bisa menjadikannya sebagai cermin untuk menata diri.

Karena jilbab merupakan identitas kita sebagai seorang muslimah, sebagai hamba-Nya yang taat, tentu kita akan selalu menjaga jilbab, jangan sampai jilbab yang kita kenakan justru malah menimbulkan fitnah. Nantinya, jilbab ini akan membawa kita pada perubahan sikap, tingkah laku serta perbuatan kita sehari-hari ke jalan yang diridloi-Nya.

Yah, jilbab sebagai alat untuk menjaga hati, bukan menjaga hati terlebih dulu, kemudian baru mengenakan jilbab. Karena menutup aurat hukumnya adalah wajib, maka dengan mengenakan jilbab sekaligus menjilbabi hati adalah hal yang harus kita lakukan sebagai seorang muslimah.

Tunggu apa lagi? Jangan ragu-ragu untuk mengenakan jilbab. Jadikan jilbab sebagai cermin menjaga hati dan tidak menjadikannya sebagai asesoris belaka. Keep istiqomah!!! (ntz)

Kamis, 16 Juli 2009

Demam Facebook Menjangkiti Semua Kalangan

Bila beberapa waktu yang lalu, Facebook dianggap sebagai situs pertemanan khusus orang dewasa, agaknya anggapan ini tidak berlaku untuk sekarang ini. Facebook kini telah menghipnotis semua kalangan baik anak sekolah, mahasiswa maupun para pekerja. Banyaknya fitur yang ditawarkan, menjadikan Facebook sebagai magnet untuk menarik para pencinta dunia maya dalam menjaring pertemanan lewat teknologi internet.
Para remaja yang sebelumnya menggandrungi situs pertemanan seperti Friendster, sekarang minatnya telah beralih pada situs pertemanan lain, yakni Facebook.

Merebaknya demam Facebook di Indonesia, menjadikan peringkat Facebook melejit ke posisi teratas mengalahkan mesin pencari google dalam bahasa Indonesia. Bahkan alexa.com mencatat situs Yahoo, Google, Blogger dan Friendster yang pada awal tahun lalu berada di peringkat 5 besar, kini posisinya harus tergeser oleh Facebook, dimana pada waktu itu hanya berada di peringkat 6. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Hanya dalam waktu yang terbilang singkat, Facebook mampu menggeser situs-situs besar lainnya.

Apa Yang Menjadikan Facebook Berbeda ?

Dinamika masyarakat yang berubah menjadikan situs Facebook dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Praktis, simple dan semua ada dalam Facebook. Praktis, karena Facebook merupakan mobile access yang bisa dengan mudah diakses lewat Ponsel. Simple, karena Facebook terdiri dari fitur-fitur yang sangat simple terutama pada fitur ‘perbarui status’ yang memungkinkan bagi pengguna Facebook menulis sesuatu dengan bahasa yang singkat tanpa harus membutuhkan waktu lama untuk memikirkan apa yang hendak ditulis. Dan semua ada dalam Facebook, chatting, blogging, posting foto hingga mengakses situs lain lewat Facebook pun bisa dengan mudah dilakukan.

Inilah yang membuat Facebook berbeda dengan situs-situs lain. Hanya saja meskipun banyak keunggulannya, Facebook juga tak luput dari kekurangan dalam fitur-fitur yang ada. Pada saat sign up misalnya, terkadang membingungkan para pengguna yang masih awam karena harus melewati beberapa langkah untuk mempunyai akun sebuah Facebook.
Tidak hanya itu, banyaknya fitur yang tersedia justru malah membuat bingung dan terkadang jengkel ketika pengguna tidak tahu harus bagaimana mengaplikasikannya.

Facebook juga dinilai tidak rapi. Pasalnya semua yang diterbitkan dan laporan aktivitas terbaru berada dalam satu tempat yang sama, sehingga kesannya campur aduk antara foto, catatan, status terbaru, buku tamu dan terbitan lain harus berjajar dalam dinding yang sama. Hanya saja jika berasal dari kiriman pengguna Facebook lain, dinding bisa berada di dalam tempat yang berbeda. Pun demikian, ini tetap tidak memperlihatkan Facebook tertata rapi sebagaimana halnya dengan Friendster maupun Blog. Di samping itu tampilan Facebook dinilai monoton, tak seperti halnya Friendster ataupun Blog khusunya Multiply yang memudahkan para pengguna untuk mengubah background sesuai selera.

What’s On Your Mind?


Apakah yang anda pikirkan? Pertanyaan ini tentu sangatlah tidak asing bagi para pengguna Facebook. Pertanyaan ini juga mampu menarik jutaan pengguna Facebook untuk mengeksplorasi apa yang telah dipikirkan. Entah sekedar curahan hati, melaporkan kegiatan terkini, berdiskusi soal isu teraktual, agenda yang akan didatangi atau bahkan hanya sebuah tulisan iseng tanpa makna.

Tengok saja dari status yang diperbarui oleh salah satu pengguna Facebook berinsial HW. Ia hanya menulis status bahwa ia akan pulang lalu beristirahat. Beberapa menit kemudian komentar sudah mulai berdatangan dari teman-teman sesama pengguna Facebook. Komentar yang diberikan pun cenderung beragam, entah sekedar memberi saran untuk segera tidur atau hanya meniru dari status yang telah diterbitkan.

Pengguna Facebook lain berinisial MH, juga nampaknya tengah dirundung kebuntuan ketika ia harus menjawab pertanyaan yang ada dalam Facebook. Saking buntunya, ia hanya menulis pertanyaan yang sama sebagaimana halnya pertanyaan yang tertera dalam Facebook. Meski hanya meniru, komentar-komentar mulai berdatangan, dari sekedar memikirkan untuk segera makan, tidur atau bahkan sampai isu politik diungkapkan.

Bila menilik dari dua status yang telah diterbitkan oleh salah satu pengguna Facebook itu, memang terkesan tidak terlalu penting untuk diterbitkan. Namun inilah fakta dari penggunaan Facebook. Pun begitu, ini juga tidak terbilang sesuatu yang salah jika harus menulis sesuatu yang telah dipikirkannya atau bahkan sampai harus memberikan komentar. Sepanjang kalimat yang tertuang tidak memberikan mudhorot ke depannya, tentu kalimat yang keluar tidak menjadi sesuatu hal yang sia-sia adanya.

Itu hanya sebagian contoh dari status para pengguna Facebook. Terlepas dari itu, media Facebook juga sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai media dakwah. Radio MTA FM misalnya, menjaring group dalam sebuah Facebook sangat bermanfaat untuk menyebarkan dakwah terutama dalam mempromosikan adanya pengajian Ahad Pagi yang merupakan ikon dari radio tersebut. Di samping itu, pihak pengelola IT Radio MTA FM juga berusaha menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para penggemarnya.

Dari pihak pengguna Facebook individu juga dapat dilihat dari kegigihan ibu muda berinisial NK, yang selalu menyampaikan ayat-ayat suci Al-Qur’an maupun hadits-hadits untuk dikirimkan kepada pengguna Facebook lain. Perempuan muda berinisial NL juga tak kalah gigihnya untuk berdakwah lewat Facebook. Seolah tak ingin terlewatkan, dua laki-laki muda berinisial AH dan AA juga nampaknya ingin menyebarkan dakwah melalui jaringan pertemanan Facebook.

Dari uraian diatas nampak jelas, sejauh mana dan untuk apa Facebook digunakan, sangat tergantung dari pribadi masing-masing. Penggunaan Facebook sebagai ladang untuk berbuat kebaikan, merupakan solusi yang tepat mengingat banyaknya mudhorot dari penggunaan Facebook. Lalu sudahkah para pengguna Facebook memanfaatkan Facebook dengan sebaik-baiknya? (isn)

Berawal Dari Banyak Ujian, Hidayah Itu Datang


Lihatlah sosoknya kini. Wajahnya begitu segar, terlihat. Tubuhnya begitu bugar, berdiri tegap menatap ke depan, arah lensa kamera. Peresmian MTA di Pekanbaru (8/4) menjadi saksi bisu dalam foto itu. Nyaris orang tak kan tahu, ia pernah menderita penyakit yang hampir merenggut nyawanya.

Hampir lima tahun lamanya ia berjuang dalam kondisi yang memprihatinkan. Berat tubuhnya turun drastis ketika penyakit itu tengah menggerogoti raganya. Keluar masuk rumah sakit, pernah menjadi rutinitas kesehariannya kala itu. Bahkan hampir semua rumah sakit di Solo, pernah disinggahi oleh bapak berputra satu ini. Ia pun pasrah akan segala kemungkinan yang terjadi, termasuk ketika Allah harus mengambil nyawanya.
Akhir tahun 1991, adalah Rudi Herfianto, divonis oleh dokter mengidap penyakit Hydro Pnemo Thorax atau yang biasa dikenal dengan paru-paru basah. Awalnya dokter salah mendeteksi penyakitnya. Beberapa hari dirawat di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ia hanya menderita penyakit Typhus.“Waktu itu habis KKN (Kuliah Kerja Nyata-red), saya sakit dan langsung dirawat di rumah sakit. Kata dokter, hanya tifus. Setelah 10 hari dirawat, penyakit saya tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya terpaksa pulang ke rumah, karena ibu saya berpikir kondisi saya tetap sama.” ujarnya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi kesehatannya tetap tidak menunjukkan peningkatan. Bahkan malah lebih parah, sampai ia tidak bisa berjalan kemana-mana. Oleh sang ibu, akhirnya dibawalah ia ke balai paru-paru untuk diperiksa. Dokter spesialis paru-paru akhirnya menemukan penyakit apa yang sebetulnya telah diderita oleh pria kelahiran 8 Juni 1967ini.

Setelah dipastikan menderita penyakit paru-paru basah, ia pun harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta selama 3 bulan. Alhamdulillah meskipun harus berobat jalan, ia akhirnya diperbolehkan pulang kembali ke rumah.“Saya sebetulnya waktu itu sudah sehat, tapi karena saya mengabaikan untuk menjaga kesehatan saya, akhirnya penyakit saya kambuh lagi. Lagi-lagi saya harus masuk rumah sakit. Begitu juga seterusnya, saya harus keluar masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan.” ungkapnya.

Minimnya Ekonomi Keluarga

Tidak dapat dipungkiri, berkali-kali harus dirawat di rumah sakit, membuat kondisi ekonomi keluarga menurun. Sampai akhirnya, keluarganya tidak mampu lagi untuk membayar biaya selama perawatan di rumah sakit. Beruntung sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial bersedia menanggung semua biaya pengobatannya.“Yayasan itu mau membiayai seratus persen gratis. Hanya saja harus ada syaratnya. Keluarga saya harus mencari surat keterangan tidak mampu.” Jelas pria yang saat ini menjadi programmer radio MTA FM ini.

Ia akhirnya ditangani khusus oleh tim dokter spesialis paru-paru nasional. Salah satu dokter bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Ia bersyukur mendapat penanganan khusus, di samping ada 7 pasien penyakit paru-paru lainnya yang memerlukan penanganan khusus seperti halnya dirinya. Sampai suatu ketika, tim dokter merundingkan siapa saja yang harus menjalani operasi. Setelah diputuskan, 2 orang dari 8 pasien itu tidak lolos untuk dilakukan operasi.“Salah satunya adalah saya. Kalau saya dioperasi, justru malah membahayakan nyawa saya, karena kondisi saya waktu itu drop sekali.” lanjutnya mengisahkan.

Hati Tergerak Untuk Sholat


Meski terlahir dari keluarga islam, rupanya tak sepenuhnya kewajiban untuk menunaikan sholat lima waktu dilaksanakan oleh sosok yang terjun di dunia broadcasting sejak tahun 2001 ini. Bisa dikatakan islam yang dianut dulunya hanyalah sebatas pada status di KTP saja, demikian halnya dengan keluarganya. Sholat hanya ditunaikan pada waktu tertentu, semisal menunaikan sholat di hari raya islam.“Kalau tidak, paling hanya ikut sholat jum’at saja.” katanya menambahkan.

Entah karena apa, tiba-tiba hatinya tergerak untuk belajar lebih dalam lagi tentang sholat.“Saat itu ada banyak pedagang buku-buku agama yang jualan di rumah sakit. Saya tiba-tiba saja ingin beli buku yang memuat hadits-hadits tentang tuntunan sholat. Dari situlah, akhirnya hati saya terbuka untuk istiqomah menunaikan sholat lima waktu.” tukasnya.

Di tengah hantaman cobaan itu, ia mencoba untuk tetap bertahan sembari menata diri untuk berbuat lebih baik lagi. Sejak saat itu, ia selalu rutin menunaikan sholat lima waktu yang sebelumnya amat jarang ia kerjakan. Ia pun berusaha mempelajari islam lebih dalam lagi.

Allah Mengijinkannya Sembuh


Setelah menjalani perawatan intensif selama tiga tahun, alhamdulillah pada tahun 1996 ia bisa sembuh dari penyakit paru-paru basah yang dideritanya. Dokter yang menanganinya menyatakan bahwa ia sudah kembali sehat. Ia pun kembali pada rutinitas seperti biasa, mencoba kembali meniti karir menjadi seorang penari yang pernah digelutinya sejak ia masih di bangku SMA dulu.

Kuliahnya di Akademi Seni Karawitan Indonesia (Sekarang : Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI)-red) yang sempat dimasuki pada tahun 1987, terpaksa tidak dilanjutkan kembali.“Sebetulnya ibu saya menyuruh saya untuk melanjutkan kuliah lagi, setelah saya sembuh. Tapi karena saya berpikir, tidak ada gunanya, akhirnya saya tidak melanjutkan lagi. Kasihan juga orang tua saya, yang sudah habis uang banyak untuk mengobati saya. Toh saya malu juga kalau seumuran saya harus ikut kuliah lagi.” ungkapnya sembari tersenyum lebar.

Meski hanya bermodal lulusan SMA, rupanya tak menyurutkan pengisi suara tokoh Janto di radio MTA FM ini untuk tetap berkarya. Di samping menjadi penari, ia juga menjadi penyiar sekaligus pernah bergabung di sebuah band.

Ujian Allah Datang Ketika Dipertemukan Dengannya


Pada tahun 1997, ia bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan itu bernama Maria Deni Ndari Susanti. Dari namanya, nampak jelas bahwa sosok perempuan itu bukan beragama islam. Namun kala itu hatinya tetap keukeuh untuk mempertahankan agamanya meski ia menaruh hati dengannya.“Saya berprinsip, kalau dia tidak ikut agama islam, ya lebih baik tidak saja. Insya Allah iman saya sudah kuat. Tidak mungkin kalau saya menikah dengan agama yang tidak sama-sama islam.” ujarnya.

Alhamdulillah, sosok perempuan itu mengimani agama Allah. Ia diam-diam menjadi muallaf tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.“Saya senang sekali ketika saya tahu, bahwa dia itu saat pertama kali masuk islam, langsung rutin menunaikan sholat fardlu. Dan itu bukan lantaran karena saya.” Jelas pria berpostur tinggi 176 cm ini.
Sampai suatu ketika, kebiasan aneh Maria Deni setiap kali ke belakang (berwudlu-red) “dicium” juga oleh ibunya. Ada gelagat tak suka muncul di raut ibunya ketika ia mengetahui putrinya telah masuk islam. Reaksi berbeda justru diperlihatkan oleh ayahnya. Rupanya ayahnya tidak terlalu mempersoalkan perpindahan agama putrinya itu. Hingga akhirnya pada tahun 1999, mereka pun menikah.

Tak Henti Allah Memberi Ujian itu


Rupanya ujian masih saja membututinya. Empat tahun menanti si buah hati, tak jua diberi oleh-Nya. Ia pun pasrah atas segala kehendak-Nya. Alhamdulillah ujian kesabarannya dijawab oleh Allah di tahun 2004, lahirlah Billal Svaradi, putra pertamanya.

Tahun 2006, Allah memberi ujian itu lagi. Motor yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah mobil pick up. Beruntung tak ada luka serius yang bisa merenggut nyawanya. Hanya saja, wajahnya rusak parah. Bahkan ia harus menerima nasib ketika wajahnya tak lagi sama dengan yang dulu. Dari musibah itu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi penari lagi.“Wajah saya kan sudah beda, tidak seperti dulu. Jadi ya saya harus keluar.” terangnya.

Kala itu terbesit di benaknya, untuk mencari channel radio dakwah yang bisa membuatnya lebih baik lagi.“Saya berpikir, kalau saya berada di radio dakwah, saya akan lebih selamat ketimbang saya berada di radio yang bukan radio dakwah.” ujarnya.
Sampai suatu ketika, ia melamar di sebuah radio islam di Solo. Namun karena umurnya tidak masuk kualifikasi, ia tidak lolos seleksi. Beruntung salah satu dari teknisi di radio islam tersebut menawarinya untuk menjadi programmer di sebuah radio dakwah milik Majlis Tafsir Al-qur’an (MTA).

Sesuatu hal yang dicari olehnya, didapatkannya kini. Sesuatu hal yang bisa memberi petunjuk menuju jalan yang diridloi Allah. Melalui kajian Majlis Tafsir Al-qur’an (MTA) yang berdasarkan Al-qur’an dan Assunnah benar-benar membuatnya bersyukur.“Intinya saya jatuh cinta ketika saya berkesempatan untuk bisa mengikuti kajian ini. Jika orang sedang jatuh cinta, maka orang akan selalu mempertahankan apa yang dicintainya itu tidak pernah pergi darinya.” Ujarnya mengakhiri obrolan itu.
Perjalanannya yang panjang, berliku-liku dan sarat akan ujian, terhadiahi sudah dengan kesempatan yang diberikan Allah untuknya. Ia kini ditempatkan di satu lingkungan yang dipenuhi saudara-saudara seiman yang insya Allah bersama-sama berjuang menegakkan agama Allah. Tentu ujian akan selalu datang bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, namun ujian itu tidak akan menyurutkan cinta seorang hamba kepada Sang Khaliq.(isn)